gubugbudaya

A Home for Plurality

Kemiri Hitam

Posted by msurur on July 14, 2007

11 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku Aliyah. Sekolahku itu memang bukan Aliyah biasa. Ia popular dijuluki Madrasah Aliyah Program Khusus. Sekolah itu khusus laki-laki, harus lulusan terbaik dari MTs, yang diterima pun hanya 40 orang, serta wajib tinggal di asrama. Selain menerima dan menempuh pelajaran umum, aku dan teman-teman juga wajib ngaji kitab-kitab kuning seperti halnya di pesantren.

Kitab-kitab seperti Bidayah Mujtahid, Nahw al-wadlih, Fathulqarib, Jurumiyah, Fiqh Sunnah, Ilmu Ushul Fiqh, dan sebagainya juga diajarkan. Yah, tidak jauh beda dengan ngaji di pesantren. Seperti halnya di pesantren, tinggal di asrama juga menyisakan banyak cerita. Ketatnya aturan yang ditetapkan memang membuat para siswa menjadi disiplin, tapi kadang-kadang juga menimbulkan kebandelan. Jika mendengar di desa tetangga ada pemutaran layar tancap, teman-teman langsung berdiskusi bagaimana caranya supaya di malam hari bisa menyelusup keluar asrama untuk nonton bareng.

Meskipun dilarang merokok, tapi masih ada juga yang sembunyi-sembunyi menghisapnya. Macam-macam caranya; ada yang melakukannya di kamar mandi, ada yang pergi ke tengah sawah agar tidak ketahuan, ada juga yang menutup pintu kamar rapat-rapat. Maklum, kalau sampai ketahuan atau ada yang lapor, hukumannya pun lumayan; digunduli, nyuci toilet, ditampar, digebuk sajadah, bahkan sampai diskor.

Entahlah, kata teman-teman aku termasuk siswa yang penurut. Aku sendiri hampir tidak pernah merasakan hukuman seperti itu. Kadang-kadang, aku hanya bisa tersenyum sewaktu melihat beberapa temanku yang dihukum karena melanggar aturan. “Yah, kamu kan juga dekat dengan kiai, jadi gak mungkin lah kalau dihukum,” timpal teman-temanku waktu itu. Padahal, aku juga seperti yang lain. Kadang-kadang masih juga nyelinap keluar asrama untuk sekedar nongkrong di mal.

Kebandelan itu muncul hanya karena kebutuhan untuk melepaskan diri dari tekanan. Bagaimana tidak, dalam satu minggu, kami harus belajar dari subuh sampai jam 10 malam. Kalaupun toh ada hiburan, itu pun cuma olahraga dan nonton tv bersama satu hari di akhir minggu. Tapi untuk keluar asrama dan melakukan kegiatan yang lain, sangat sulit, kecuali nekad dengan sembunyi-sembunyi.

Tapi hari itu, ada sesuatu yang membuatku selalu terkenang. Hari-hari itu, film India menjadi salah satu favorit. Aktornya yang terkenal berwajah ganteng dan dada berbulu membuat beberapa rekanku ingin menirunya. Paling tidak, bagaimana supaya menumbuhkan bulu lebat di dada. Mereka bilang “kalau dada kita berbulu, pasti banyak perempuan yang akan terpesona.” Walah, padahal di sekolahku itu, jangankan untuk pacaran, ngobrol dengan perempuan saja sangat sulit karena kalau ketahuan, hukumannya bisa sangat berat. Lalu, ngapain juga memperlebat bulu dada? “Dipamerin untuk siapa?” batinku.

Akhirnya, dengan berbagai cara, hampir semua rekanku mulai mencoba menumbuhkan bulu dada. Menurut cerita dari mulut ke mulut, kemiri adalah salah satu resep yang cukup manjur. Kemiri itu harus dibakar dulu sampai gosong, setelah itu diremas dan dioles di dada. Kalau rutin, bulu pun bisa tumbuh. Mulailah cara itu dilakukan. Hampir setiap malam sebelum tidur, teman-temanku membakar kemiri hingga aromanya menyebar keluar asrama. Satu persatu mengolesi dadanya dengan kemiri gosong. Bahkan, ada juga yang mengolesi atas bibirnya supaya kumisnya jadi tumbuh lebat.

Tapi, malam itu adalah yang paling heboh. Ketika teman-temanku sudah tertidur dengan tanpa baju – maklum, dada dan kumisnya berwarna hitam kemiri, tiba-tiba kiai menggedor seluruh kamar dan memaksa para siswa berkumpul. Aku kaget. Setengah menyipit, aku lihat jam menunjukkan pukul 02.30 dinihari. “Wah, ada apa ini?” pikirku. Teman-teman lain dengan setengah sadar langsung melompat bangun dan langsung berkumpul tanpa sempat lagi memakai baju. Kata kiai, ada maling menyusup asrama. Maling itu berasal dari salah satu siswa dan telah mengambil uang milik siswa yang lain.

Awalnya, kiai hendak marah dan akan menginterogasi seluruh siswa. Tapi, ketika melihat teman-temanku telanjang dada dan berwarna hitam kemiri gosong, seketika kiai tersenyum. “Ya sudah, lanjutkan tidur kalian. Tapi ingat, besok pagi setelah selesai ngaji, kalian kumpul lagi di sini.” Sambil tertunduk, seluruh siswa kembali menuju kamar masing-masing.

3 Responses to “Kemiri Hitam”

  1. anggara said

    maksudnya program khusus apa sih? supaya santrinya rada-rada kayak surur gitu? wakakakakakak *kabuuur sebelum dilempar surur*

  2. msurur said

    Maksudnya khsus itu ya khusus di bidang keagamaan gitu loh…

  3. anggara said

    oooh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: