gubugbudaya

A Home for Plurality

Republik Celeng*

Posted by msurur on June 18, 2007

Celeng itu memang gemuk dan kelihatan perkasa. Ia memiliki banyak anak buah yang semuanya juga celeng. Menurut keyakinan sebagian besar orang Jawa, celeng melambangkan kekuasaan, kekuatan, kerakusan, dan keserakahan. Ia menjijikkan karena tingkah lakunya yang menyebalkan. Terdapat sebuah legenda, ada celeng yang suka mencuri harta milik masyarakat. Ia memang bukan celeng yang sesungguhnya. Ia jelmaan manusia yang karena memiliki olah kebatinan kemudian menjadikan kemampuan itu untuk mengubah dirinya menjadi celeng jadi-jadian untuk meraup sebanyak-banyaknya harta yang dimiliki oleh masyarakat sekitarnya. Polah tingkah celeng ini sering disebut dengan ngepet, celeng ngepet atau babi ngepet.

Sudah sekian lama celeng itu meresahkan masyarakat. Banyak sudah cara dilakukan untuk menangkap dan membunuhnya, tetapi selalu gagal. Itu disebabkan oleh anak buah celeng yang rata-rata cukup memiliki kemampuan kuat untuk melindungi raja celeng. Cita-cita masyarakat akhirnya kesampaian setelah tiga dasawarsa lamanya menunggu. Dengan penuh gegap gempita dan soliditas kekuatan yang terpadu, masyarakat akhirnya mampu menangkap si raja celeng. Masyarakat bersorak, mereka bergembira karena merasa mampu menangkap raja celeng. Berhari-hari mereka mengadakan pesta sembari berharap, setelah raja celeng ditangkap, mudah-mudahan kehidupan masyarakat menjadi tenang.

Lain yang diharap, lain yang terwujud. Memang benar raja celeng telah tertangkap, bahkan tajinya sudah tumpul. Tetapi anak buah raja celeng masih berkeliaran. Mereka melakukan konsolidasi terrencana untuk membebaskan raja celeng, atau paling tidak, melindungi raja celeng dari cercaan masyarakat, atau paling tidak, meneruskan cita-cita “luhur” raja celeng, yaitu membentuk dan menegakkan republik celeng. Masyarakat kecewa, masyarakat resah. Ternyata, setelah raja celeng tertangkap, kehidupan masyarakat bukan menjadi lebih baik, tetapi lebih parah, bahkan lebih parah dari kehidupan sewaktu raja celeng masih berkeliaran.

Masyarakat kembali berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah strategis menangkap celengceleng yang berkeliaran. Tokoh masyarakat pun turut diundang. Tapi apa lacur, tokoh masyarakat yang diharapkan mampu menghabisi para celeng itu, malah larut dalam keasyikan permainan para celeng. Ternyata, celengceleng itu bukan celeng biasa. Dengan kekuatannya, ia mampu mengubah keadaan. Para tokoh masyarakat malah dibuat bingung, karena celengceleng itu rajin memberikan upeti dari hasil jerih payahnya melakukan ngepet, menjarah harta masyarakat.

Masyarakat tambah ribut. Maklum, pemimpin masyarakat waktu itu hanyalah penerus dari kepemimpinan sebelumnya yang tidak mengerti kebutuhan masyarakatnya. Ketika salah satu desa nun jauh di sana dijarah habis-habisan oleh celengceleng liar, ia hanya bisa diam. Untunglah, kepemimpinan kemudian berganti. Ia harus digantikan oleh pemimpin baru. Warga masyarakat menyambut hari pemilihan itu dengan gembira, meskipun ada juga yang pesimis sama sekali. Akhirnya terpilihlah seorang resi sebagai pemimpin. Resi yang satu ini memang aneh. Ia suka mbanyol, sering ngledek orang, dan membuat orang bingung. Ia yang sehari-harinya sering mengurus ummat di jalanan dan di pinggir-pinggir dusun, sekarang harus ongkang-ongkang di atas kursi empuk kekuasaan. Dia ingin merombak struktur kampung habis-habisan, bahkan ingin membumihanguskan markas celeng dan kolega-koleganya. Tapi, celengceleng itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Sang resi yang kini menjadi pemimpin itu akhirnya dibuat repot oleh permainan gila para celeng.

Melihat keadaan kampung yang semakin tidak karuan, beberapa tokoh yang peduli terhadap kesejahteraan kampung berkumpul. Mereka sepakat untuk mengundang para pawang celeng. Mereka juga sepakat untuk mengadakan pesta dengan harapan celengceleng itu juga akan nimbrung di acara pesta. Apa yang diharapkan para tokoh itu terkabul. Malam pesta pun digelar. Semua penduduk berkumpul dengan berbagai dandanan yang beraneka ragam. Para perempuan kampung bersolek secantik mungkin. Ketika gamelan ditabuh, para penari mulai bergoyang. Para pemuda kampung ikut menari. Para perempuannya pun ikut berjoget.

Ada yang aneh. Ternyata, muka-muka penari itu tertutup topeng. Ketika topeng dibuka, tersembullah wajah yang asli. Wajah celeng. Para pawang segera bertindak. Dengan keahlian yang mereka miliki, para pawang itu berusaha menundukkan para celeng. Apa mau dikata, kekuatan celeng itu memang luar biasa. Bukannya celeng yang takluk, melainkan para pawang itu yang justru terpengaruh oleh polah tingkah para celeng. Para pawang itu malah ikut menari-nari seperti celeng. Masyarakat yang menonton pun terpengaruh. Mereka juga ikut-ikutan menari dan berlari-lari seperti celeng. Para perempuannya malah lebih gila. Satu persatu mereka menanggalkan pakaian yang mereka pakai sambil terus berjoget mengikuti irama joget para celeng. Akhirnya, tidak ada satu pun yang selamat. Semuanya menari-nari seperti celeng. Tegaklah sudah sebuah kampung baru, republik baru. Republik celeng.

Kini, setelah kepemimpinan beralih dari tangan sang Resi, kampung dan masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang lebih membingungkan. Ia seringkali diam ketika masyarakat berkeluh kesah. Bahkan, ketika desa tetangga ribut karena akan terjadi tawuran antar kampung, pemimpin ini juga masih diam. Celengceleng semakin liar. Seolah-olah mereka sedang mempermainkan masyarakat kampung dan yakin bahwa pemimpin kali ini tidak ubahnya seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ia pastilah mudah diajak kerjasama untuk ngepet, menjarah harta masyarakat.

Menjelang momentum suksesi politik nasional, ternyata celeng-celeng itu masih juga berkeliaran, dan mungkin malah semakin bebas berkeliaran. Tidak ada satu pun yang mampu menghentikan mereka. Tidak polisi, tidak militer, tidak pejabat pemerintah, tidak juga masyarakat. Malah, banyak pejabat yang semakin menyebalkan. Mereka benar-benar tahu bahwa masyarakat kekurangan gula, harga gabah melorot drastis, ekonomi semrawut. Tapi, tiap hari konsumsi barang mewah terus mengalir, pesta partai di mana-mana, masyarakat benar-benar kehilangan induknya. Para aparatus negara semakin sibuk mengurusi diri dan kelompoknya, sementara masyarakat semakin pusing menemukan cara memenuhi kebutuhan perutnya.

Mungkin tepat jika dikatakan bahwa angin perubahan – di sini dirumuskan sebagai reformasi – tetap belum mampu melahirkan perubahan  untuk memperbaiki kondisi bangsa. Sebaliknya, reformasi menjadi lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya anak cucu raja celeng yang semakin liar dan keluyuran kesana kemari. Kemirisan di era reformasi ternyata tidak kalah ketimbang yang terjadi di era-era sebelumnya. Para celeng bukan hanya menjarah harta masyarakat, tetapi juga mulai menjarah harga diri masyarakat. Ketika terdapat suatu komunitas yang hidup dengan rangkaian tradisinya, ini dianggap menyalahi aturan agama “resmi” negara, seolah-olah kesalehan dan kepatutan hanya boleh ditentukan oleh negara. Era yang dibangun oleh komunitas celeng pada akhirnya juga akan mendirikan republik baru, republik celeng.

Dan kini, kita akan menjelang suksesi yang ke sekian. Figur sudah mentereng dan siap bertarung. Kita hanya berharap, semoga pertarungan itu bukan pertarungan calon-calon raja celeng yang ingin menjadi raja celeng sejati. Kita tunggu saja, seperti kata Sindhunata; tak enteni keplokmu!

*Sebuah sari dari karya Sindhunata: Tak Enteni Keplokmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: