gubugbudaya

A Home for Plurality

Hastinapura

Posted by msurur on June 18, 2007

Ini di kota, bung. Deru mobil, bising suara motor, atau dua tetangga yang saling umpat karena berebut tempat sampah. Ah, itu biasa. Namanya juga di kota besar, bung. Copet, jambret, maling, juga biasa lalu lalang di depan mata. Untuk yang terakhir ini aku juga ingat. Baru kemarin Sukmawati berseloroh, ngedumel, bukan karena ia harus naik angkot tiap hari, tapi ia melihat tiga orang laki-laki sangar bermata merah menempel ketat seorang perempuan paruh baya. Yang satu pura-pura baca koran, yang lain pura-pura menjatuhkan komik lusuh, sementara yang lain lagi pura-pura tertidur dengan kepala bersandar di bahu sang ibu.

“Ini pura-pura. Mereka pasti bangsa pencopet,“ pikir Sukma. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini di kota, bung. Ingin membela orang lain, jangan-jangan nyawa sendiri tidak terjaga. Angkot berhenti. Tiga laki-laki itu keluar mobil. Sepeminuman teh kemudian, sang ibu sadar, dompetnya raib.

“Mana dompetku?!“ teriaknya cemas.

“Terlambat, bu.“ Sopir hanya nyengir. “Ini di kota, bu. Lain kali hati-hati ya.“

Mataku nyalang, aku juga naik angkot, penat rasanya. Tiba-tiba mobil berhenti. “Sabar ya, ada pengantin sedang lewat,“ ujar sopir.

“Gila, apa-apaan ini?! Jalanan ramai kok ditutup.“

“Ssstt, pengantinnya putra Prabu Hastinapura,“ kabar sopir.

Sampean gila apa? Ini kan abad 21, Mas?!“ bantahku. Lagi-lagi sopir nyengir.

“Lha itu jelas, lagunya saja Rama dan Sinta. Dia itu kan putra Hastinapura.“

“Sialan!“ umpatku.

Aku tercenung, heran. Orang-orang pinggiran kota ini bilang kalau tanah yang aku pijak ini adalah hamparan Kurusetra.

“Ah, yang benar saja. Itu kan di India Kuno,“ kilahku.

“Terserah. Tapi kami menyebutnya Kurusetra,“ ujar pak Lurah. “Kamu tahu kalau kami punya tradisi yang sama dengan Pandawa dan Kurawa. Kami suka mempertaruhkan saudara perempuan kami di meja judi. Kami juga suka perang saudara, dan setiap kali kami bermusuhan, kami menyelesaikannya di tanah ini. Untuk itu, kami menyebutnya Kurusetra, he…he…he…“ ujarnya lalu nyelonong pergi.

Aku ingat, satu bulan yang lalu aku kondangan. Aku tidak kenal dengan pasangan pengantin, tapi di undangan tertera nama Rama-Sinta. Keduanya orang kaya, bermartabat, keturunan Raja, memegang kendali hukum. Undangan tidak diantar, tapi disebar ke seluruh pelosok tempat. Yang menerima undangan harus datang, jika tidak, akan diseret ke tiang gantungan.

“Lho kok di sini. Ini kan di Grand Hyatt,“ pikirku.

“Eh, tahu nggak. Mereka itu kawin paksa lho. Sinta itu kan sudah punya pacar, namanya Laksmana, adik Rama sendiri. Sinta dipaksa oleh Rama untuk menjadi istrinya,“ bisik seorang tamu yang berdiri di sampingku.

“Ini penghianatan, ini dosa. Rama sudah gila,“ ucapku. “Tapi perempuan juga kan kan bisa berhianat. Bukankah Sybilla juga selingkuh dengan Balian dan menghianati Guy de Lusignan, suaminya?“ sanggah sang tamu.

Hey, itu kan di Kingdom of Heaven, bung.“

Hari ini, tepatnya satu bulan setelah peristiwa pernikahan itu, seluruh media gempar oleh berita duka. Sinta, menantu Hastinapura itu mati dengan cara menjatuhkan diri dari menara Thamrin. Kabarnya, ia tidak sudi menjalani rumah tangga tanpa percintaan yang tulus. Rama terlalu egois, ia lebih suka menghabiskan hari-harinya di meja judi daripada menggolekkan tubuhnya di samping istrinya. Bukan hanya itu, Rama juga sering ke luar kota. “Bisnis,“ katanya. Tapi setiap kali “bisnis,“ ia selalu ditemani oleh perempuan-perempuan cantik yang dengan mudah ia beli dengan uang. Malah, kini dikabarkan, Rama memiliki selir baru, seorang sinden muda yang sangat terkenal di seluruh Hastinapura.

Di pinggir-pinggir jalan, di warung kopi, di metro mini, mal, semua orang haru. Mereka membaca koran, menyaksikan siaran televisi, dan mendengarkan radio. Ada sesuatu yang menarik perhatian semua orang. Sebelum meninggal, Sinta menulis sesuatu:

“Suamiku, sedari awal aku tidak mencintaimu, tapi aku berusaha untuk mencintaimu. Malam pertama, darah perawanku tidak keluar dan kamu menuduhku telah didahului oleh orang lain. Kamu kecewa, dan mulai seenaknya memperlakukan aku. Kembali ke Laksmana bukanlah kemauanku, meskipun cintanya masih untukku. Menyeberang ke Alengka juga bukan mimpiku, meskipun Rahwana pasti akan menerimaku. Siapa pun tahu bahwa aku sangatlah cantik, tubuhku juga sangatlah indah. Tapi kamu telah menyia-nyiakan aku. Ketika pulang, kamu lebih suka tidur di kamar mandi daripada memelukku. Kini, dirimu malah brayan lagi dengan perempuan sinden kampung itu. Malah, dengan bangga kamu katakan bahwa sinden itu masih perawan, darahnya muncrat sewaktu malam pertama. Apakah hanya karena darah perawan itu kamu berpaling begitu mudah? Biarlah aku sendirian menuju Acropolis, jembatan indah menuju kebahagiaan. Selamat tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: