gubugbudaya

A Home for Plurality

Perempuan di Balik Kaca Kotak

Posted by msurur on June 14, 2007

Meidita Artisita (19 tahun) begitu gelisah. Waktu yang ia lihat menunjukkan pukul 4 sore, sementara ia masih berada di dalam taksi bertemankan seorang sopir. Wajahnya mulai memucat, ia tahu bahwa setengah jam lagi, pengambilan gambar untuk iklan sebuah produk shampo segera dilakukan. Ia cemas, bukan lantaran macetnya jalanan kota, tetapi hari itu adalah pertaruhan. Hari itu adalah hari pertama percobaannya menjadi model iklan, setelah beberapa hari sebelumnya ia harus bersaing dengan calon model yang lain untuk mendapatkan tempat. Ia hanya ingin agar penampilannya di hari pertama ini bisa mengesankan, penuh kepercayaan, dan tentu saja professional.

Sebagai orang luar, mungkin kita atau juga siapa pun hanya bisa membayangkan bagaimana hidup dan kehidupan seorang artis layar kaca (sinetron, layar lebar, presenter, dan iklan). Apa yang ada di benak penonton adalah asumsi atau juga dugaan bahwa hidup dan kehidupan para bintang layar kaca itu sangatlah menyenangkan, penuh glamour, popular, dan yang pasti berlimpah dengan uang. Dan ketika asumsi itu berbanding lurus dengan penampakan perilaku keseharian para artis, maka wajar jika kemudian banyak orang yang berjubel ingin menjadi bintang yang sama. Amelya Oktavia, Casting Director MD Entertainment mengatakan bahwa dalam satu hari, ia bisa melakukan seleksi seratus orang calon artis, dengan 60-80 di antaranya adalah perempuan. “Rata-rata berwajah ganteng dan cantik. Tapi sayang, tidak dibekali dengan kemampuan yang baik. Dari seratus orang itu, paling-paling yang terpilih dan memiliki kualitas cuma satu atau dua orang,” ujarnya.

Dan mungkin, karena persaingan yang cukup ketat itulah yang membuat tidak sedikit para calon artis berani melakukan berbagai terobosan kreatif dengan tujuan agar dirinya diterima sebagai bintang. Tubuh menjadi arena, bukan hanya untuk dimaknai oleh orang lain, melainkan juga untuk dijaja demi hasrat pribadi. Dalam konteks ini, biasanya para calon artis tidak terlalu memikirkan apakah ia akan diterima oleh publik atau tidak, yang jelas ia lebih memikirkan imajinasi sebagai yang akan menjadi popular dan mampu mengubah gaya hidup dan kehidupannya.

Tampaknya, dunia entertainment bukan lagi sekedar menghibur, tetapi juga menjanjikan materi yang cukup lumayan, sehingga dengan itu diminati oleh banyak orang. Tentu, yang dihadirkan oleh dunia hiburan itu bukan hanya sekedar tontonan, tetapi juga pesan, harapan, dan bujuk rayu. Menyadari fungsi dari layar kaca inilah, maka seluruh tim kreatif yang terlibat di dalamnya dituntut untuk menyuguhkan menu, bukan sekedar hiburan yang sesuai dengan selera pasar, tetapi juga menciptakan pasar baru melalui tontonan yang dibuat sangat menarik baik dari segi isi (content) acara maupun sosok tokoh utamanya.

Tidak jarang, untuk memenuhi peran yang serba menarik inilah, perempuan – dibanding laki-laki – menjadi ikon yang paling berpengaruh. Mulai dari iklan, sinetron, infotainment, presenter, sampai film lepas tidak pernah kosong dari peran perempuan. Bahkan, iklan produk tertentu, yang jika ditilik dari pesan yang ingin disampaikan tidak ada hubungannya dengan perempuan, tetap merasa penting untuk menyertakan perempuan di dalamnya. Dengan demikian, apakah bisa dimengerti jika asumsi dan analisis dari para pengamat gender mengatakan bahwa perempuan dalam layar kaca hanyalah korban dari kapitalisme global yang sangat kuat ideologi patriarkinya?

Tulisan ini bukan untuk menjawab pertanyaan itu. Ia hanya ingin melihat seberapa jauh keterlibatan perempuan dalam layar kaca, bukan semata-mata sebagai sosok yang bisa dimanfaatkan, melainkan juga sosok yang memanfaatkan kapitalisme untuk tujuan yang sesuai dengan keinginannya. Hal ini disadari bahwa perempuan, dengan berbagai peran yang ia mainkan tetap memiliki hasrat untuk memaknai dunia yang digelutinya. Meskipun kita sadar bahwa tontonan di dalam layar kaca tidak sepenuhnya menyajikan suatu realitas yang sesungguhnya, tetapi ia adalah media yang cukup signifikan bagi pembentukan imajinasi tentang kelas social, identitas, dan politik pencitraan. Dengan demikian, perempuan dalam layar kaca, tidak semata-mata berupa teks yang bisa ditonton, dibaca, dan dimaknai, melainkan juga penulis dan pencipta makna itu sendiri.

Posisi dan Peran yang Selalu Berubah

Sepertinya tidak pernah ada kesimpulan tunggal tentang posisi perempuan dalam layar kaca. Ketika pada tahun 80-an, Madonna dihardik oleh para feminis sebagai korban dari kapitalisme, di sisi lain bermunculan pula pembelaan bahwa ia justru telah mengelabui kapitalisme dengan meraup peruntungan finansial yang sebanyak-banyaknya. Di satu sisi, ia juga besar dan popular lewat media massa yang hampir tidak pernah berhenti untuk mewartakan kehidupan kesehariannya. Tapi, justru popularitas yang diciptakan oleh media itulah yang ia manfaatkan untuk mendongkrak nilai (harga) perannya. Ia, tidak lagi menjadi yang dipandang, tetapi berbalik memandang. Dalam hubungan kekuasaan seperti itu, ia berada pada posisi ganda; di satu sisi, ia dibayar untuk memberikan jasa bagi “majikan”-nya, tetapi di sisi lain, ia adalah pemegang negosiasi dan pengambil keputusan.

Dan kini, tanpa harus merujuk ke Madonna, tidak sedikit artis perempuan yang memiliki posisi dan peran yang serupa. Sadar bahwa popularitas bukanlah sesuatu yang mudah diraih, maka proses ingin menjadi bintang hampir selalu beriringan dengan transaksi seksual terselubung. “Dari 80 perempuan yang saya casting, ada banyak kejadian menarik. Ada yang roknya sengaja diangkat, kaki dilipat dan pakai tank top yang terlihat belahan dadanya. Lalu telpon-telpon kita, nagajak nonton, makan malam, dan tindak lanjut yang menggiurkan. Hal itu mereka lakukan agar bisa menjadi pemeran utama,” ujar ES, Manajer Acquisition Local Program salah satu tv swasta di Jakarta.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa sergapan dari para feminis tentang eksploitasi tubuh dan seksualitas perempuan melalui media layar kaca tidak sepenuhnya benar. “Mereka (peserta casting) itu sadar betul dengan kelebihan tubuh mereka. Maka, itulah yang ditonjolkan. Bahkan tidak sedikit yang ingin agar dirinya bisa berkenalan dengan pengusaha, dipacarin, atau dijadikan istri,” lanjut ES. Dan mungkin, karena sadar bahwa popularitas sebagai artis akan mengalami masa surut, maka penampilan maksimal akan dilakukan pada saat diri mereka sedang berada di puncak ketenarannya.

Untuk itu, tidak jarang kita saksikan seorang bintang sinetron yang sedang berada di puncak karirnya selalu menghiasi layar kaca: begitu sering dan beda peran. Jika pada hari ini ia berperan sebagai seorang perempuan miskin, lembut, dan baik hati, maka di hari yang sama dengan waktu tayang yang beda ia memerankan diri sebagai perempuan kaya, anak sekolahan, dan menjadi idola laki-laki. Jika esok malam, ia memerankan diri sebagai perempuan malam yang sedang mencari pelanggan, maka di waktu yang lain, ia bisa berperan sebagai perempuan saleh, memakai busana muslimah, dan ibu rumah tangga yang baik.

Saleh, judes, galak, lugu, merupakan deret dari sekian peran yang mungkin sangat kontras dengan realitas keseharian. Bagaimanapun, apa yang tampak dalam layar kaca merupakan perpaduan antara keinginan untuk menampilkan diri secara piawai dengan peran yang dimainkan. Dan ketika jarak antara penonton dan yang ditonton sudah demikian dekat, maka pilihan peran turut berdampak pada respon publik dalam dunia keseharian. Tidak jarang kita saksikan pengakuan para artis yang dicubit, dicium, atau dimintai tanda tangan ketika sedang asyik jalan di mal, kafe, atau restoran tertentu. Ia akan dicubit ketika peran yang dipilihnya adalah sosok perempuan judes, suka menggunakan kekerasan, dan cerewet. Tetapi, ia akan dicium ketika ia memerankan sosok perempuan yang baik-baik.

Aktor, dengan demikian, hanyalah sosok yang memang dituntut untuk selalu melakukan politik penampilan, sebuah laku yang harus piawai menampilkan segala sesuatu yang positif, dan menyembunyikan sesuatu yang negatif di hadapan publik. Meskipun, politik penampilan tidak pernah menemukan kesejatiannya karena di suatu waktu, sang artis bisa terjerembab dalam bidikan kamera televisi sebagai sosok yang menyebalkan. bagaimana tidak, peran sebagai perempuan baik-baik di layar kaca ternyata kontras dengan apa yang ditampakkan dalam dunia nyata, terlebih ketika sebuah berita menayangkan dirinya sedang terlibat dalam kasus narkotika.

Dari sini, publik akan tersentak bahwa seorang artis yang awalnya sangat diidolakan ternyata memiliki sisi lain hidup yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tentu, hal ini mencerminkan bahwa konstruksi tentang perempuan dalam layar kaca, bukan hanya imajiner melainkan juga rekayasa yang ingin menggiring nalar publik pada citra tertentu. Kemampuan lain rekayasa dunia layar kaca terhadap pembentukan citra adalah meruntuhkan tembok batas antara apa yang dikategori sebagai privat dan publik.

Tayangan seperti Katakan Cinta, Harap-harap Cemas (H2C), Cinta Lama Bersemi Kembali, bukan hanya berusaha mengungkap sesuatu yang awalnya sangat privat, yaitu pernyataan cinta dan kecemasan pada pasangannya. Peristiwa yang dulu hanya mungkin dilakukan secara diam-diam, bahkan kalau perlu melalui surat dan mak comblang, kini bisa disaksikan secara publik. Juga tidak jarang, perempuan yang dikisahkan dalam tayangan seperti itu adalah mereka yang memiliki keberanian untuk mengungapkan perasaannya, menjadi subjek yang mencurahkan isi hati terhadap laki-laki yang diidamkannya sekaligus sadar dengan risiko ditolak atau diterima.

Perempuan dalam Iklan Perempuan

Gagasan tentang iklan di media massa sudah muncul sejak lama. Pada tahun 1744, yaitu masa pemerintahan Hindia Belanda, perdagangan melalui bujuk rayu ini muncul melalui ide pemerintah waktu itu yang merasa penting dan perlu menambah jumlah armada perang. Rekruitmen balatentara itu kemudian dilakukan melalui iklan “lowongan kerja” dengan imbalan gaji dan fasilitas bagi bumi putra yang mau menjadi serdadu kolonial.

Kini, ratusan tahun setelah iklan pertama itu terbit, muncullah berbagai iklan tentang berbagai produk industri – baik tradisional maupun modern – berikut segala kreatifitasnya. Sebagai bujuk rayu, daya tarik menjadi modal utama di samping pesan yang ingin disampaikan. Dengan memakai perempuan, diasumsikan akan menarik minat para pembeli yang ingin menyalurkan hasrat konsumtifnya. Dan ini terbukti, berbagai produk industri masa kini selalu dilemparkan ke publik melalui bujuk rayu iklan dengan perempuan sebagai model utamanya.

Mulai dari produk kecantikan, ramuan tradisional, alat rumah tangga sampai kendaraan bermotor tidak pernah kosong dari keterlibatan perempuan. Meskipun pada awalnya iklan lebih berfungsi sebagai penyampai pesan dari nilai sebuah produk dengan harapan supaya dibeli oleh orang, maka lambat laun ia memiliki peran yang lain, yaitu menciptakan citra, harapan, prestis, status, dan impian. Sementara penampilan perempuan yang dikemas dalam balutan visual yang kreatif, indah, dan kental nuansa humornya lebih sebagai pembawa pesan dengan daya tarik yang diupayakan bisa merengkuh keduanya.

Maka ketika banyak kalangan yang memaknai cantik sebagai sesuatu yang sulit didefinisikan, maka iklan membuat kategori cantik menjadi sangat terukur. Cantik adalah putih, langsing, rambut hitam tanpa ketombe, dan selalu berbau wangi. Cantik hasil konstruksi ini semakin menemukan tempat ketika hampir seluruh media massa menampilkan iklan produk-produk yang menunjang dan/atau sangat menentukan kecantikan seseorang. Bahkan, salah satu iklan produk pelangsing tubuh dengan berani menyimpulkan bahwa hubungan suami istri, atau paling tidak, sudut pandang dan perhatian seorang suami terhadap istrinya akan luntur ketika diketahui bahwa berat badan istrinya mulai bertambah dengan tonjolan-tonjolan daging berlemak di sana-sini.

Iklan produk sabun mandi menampilkan sesuatu yang lain. Salah satu bintang iklannya, Tamara Bleszinsky, perempuan indo berkulit putih itu tampak sangat menikmati dirinya dengan berbalut pakaian yang terbuka di wilayah dada, berjalan pelan, senyum tersungging, penuh bangga, mata menyorot tajam dan lurus ke depan seolah-olah ia sadar betul bahwa dirinya memiliki tubuh yang patut dijadikan contoh bagi siapapun yang mendambakan putih, wangi, dan segar.

Tetapi, ada sesuatu yang agaknya luput dari antusiasme iklan itu. Pemancangan perempuan indo sebagai bintang iklan sabun mandi pemutih bukan hanya menyimpan paradoks di dalam dirinya, bahkan juga ketidakpastian. Ia paradoks karena perempuan Indo yang memiliki kulit putih memang sudah putih sejak ia dilahirkan tanpa harus dibalur oleh sabun pemutih meskipun ia tidak akan pernah seputih perempuan kulit putih Eropa. Di sisi lain, ia juga menjamin ketidakpastian karena tidak berani menampilkan perempuan berkulit gelap, yang dengan lantaran sabun mandi itu bisa mengubah kulit hitamnya menjadi putih. Itulah, ketika publik hanya dianggap sebagai konsumen, bukan teman dialog, maka iklan tetap akan menemukan targetnya.

Di pihak lain, iklan sebuah mobil juga menyertakan perempuan di dalamnya, bukan semata-mata sekedar tampil sebagai penunjang tetapi juga penentu. Tampak, bagaimana seorang laki-laki duduk dengan gagah di atas mobil sambil melirik tajam pada dua orang perempuan di sampingnya. Serta merta, dua perempuan cantik itu menggumam penuh pesona dan mendesah sebagai sirat keduanya sedang jatuh cinta, tanpa kita tahu apakah keduanya jatuh cinta kepada si laki-laki atau justru pada mobil yang dikendarainya. Sepertinya, pesan yang ingin diusung dari iklan seperti ini adalah citra bahwa kegagahan laki-laki hanya mungkin muncul dengan adanya mobil dan juga perempuan.

Meskipun tidak mewakili konstruksi perempuan dari seluruh bentuk iklan yang ditayangkan melalui layar kaca, tetapi ketiga contoh di atas cukup jelas menggambarkan bahwa perempuan memang memiliki tempat yang cukup signifikan dalam kancah periklanan. Apa yang dibidik dari periklanan adalah idealisasi peran perempuan dalam seluruh dimensi kehidupannya. Melalui iklan deterjen, perempuan diposisikan sebagai pribadi yang harus mengerti tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga, demikian pula dengan iklan bumbu masakan dapur dan pewangi pakaian. Semuanya memperlihatkan perempuan sebagai sosok yang lebih patut berada di dalam rumah, mengerti kebutuhan rumah tangganya, dan mampu menebar kasih sayang bagi keluarganya.

Barangkali ada benarnya jika beberapa pengamat perempuan dan iklan mengatakan bahwa perempuan yang memeragakan diri sebagai bintang iklan sedang berada dalam alienasi, sebuah situasi dimana ia sendiri tidak mengerti dan menyadari posisi dirinya berkaitan dengan produk yang diperkenalkannya. Layaknya tudingan para pengagum marxisme, perempuan yang menjadi model itu bukan hanya tidak mungkin turut untuk menentukan harga produk yang dibintanginya, melainkan juga seberapa banyak keuntungan yang diraih. Yang ia tahu, ia hanya dibayar sesuai dengan kertas kontrak yang ditandatangani sebelumnya.

Lalu, apakah selamanya perempuan diimajinasi sebagai penyalur hasrat kapitalisme dan ideologi patriarki? Tentu agak sulit untuk menjawabnya. Karena ketika iklan obat kuat laki-laki menyeruak, maka di situlah maskulinitas laki-laki telah terjerembab. Paling tidak, laki-laki berada pada posisi inferior, tidak percaya diri di hadapan istrinya sendiri, hingga persoalan keintiman membutuhkan penunjang lain berupa obat kuat. Sama halnya dengan iklan jamu rapet wangi yang menganjurkan perempuan selalu tampil prima dan memuaskan suaminya. Dengan demikian, konstruksi tentang perempuan yang ditampilkan dalam iklan di layar kaca selalu menampakkan peran yang multidimensi. Ia tidak mungkin dibaca semata-mata sebagai korban patriarki, tetapi juga tidak sepenuhnya sebagai subjek yang superior. Dalam hubungannya dengan berbagai dimensi yang lain, peran-peran yang dimainkan perempuan dalam dunia iklan tidak akan lepas dari persentuhannya dengan wilayah yang lain, yaitu modal, penonton, dan regulasi publik dari negara dan agama.

Bagaimanapun, perempuan yang memerankan diri sebagai daya tarik produk tertentu pun tidak berdiri sendirian. Ia selalu berhadapan dengan jutaan mata yang akan memberikan respon dan reaksi. Ketika produk yang diiklankan melalui perannya berhasil dikonsumsi publik, maka di situlah interaksi sedang berjalan. Tokh, sepertinya juga sulit untuk mengukur, apakah seorang ibu rumah tangga yang sedang membeli deterjen merk tertentu di sebuah warung pinggir jalan memang terpengaruh oleh iklan, atau pada dasarnya ia memang membutuhkan fungsi deterjen itu, atau karena keduanya?

Dengan pengertian lain, publik atau pasar bukanlah tubuh-tubuh mati yang semata-mata membeli produk tertentu tanpa pertimbangan. Sejauh bahwa penampilan merupakan sesuatu yang penting, maka ia memang turut menentukan konsumsi produk-produk kosmetik yang “menjanjikan” kecantikan. Sebaliknya, sebagus apapun produk yang diiklankan, tetap tidak akan menarik daya beli ketika satu kilo beras lebih bermakna daripada sekedar satu botol parfum ukuran 25 mililiter.

Sementara pemancangan perempuan yang cantik, menarik, dan seksi hanyalah pengemasan yang tentu saja tidak terlepas dari hubungan kekuasaan antara kelompok modal dengan para perempuan yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan, hubungan ini, menurut Laura Paais, Creative Director biro iklan internasional di Jakarta “juga ditentukan oleh selera pasar.” Lebih jauh ia mengatakan “sebelum kami membuat iklan, maka kami melakukan riset pasar terlebih dahulu. Dan ketika pilihan kami jatuh pada figur perempuan sebagai ibu yang baik dalam rumah tangga, hal itu didasarkan pada pilihan penonton yang memang beranggapan bahwa perempuan dan/atau ibu yang baik adalah yang berada di rumah, pandai memilih produk rumah tangga yang bermutu, dan bisa membahagiakan suami dan anak,” ujarnya.

Diakui pula oleh Paais bahwa hingga saat ini produk kecantikan dan rumah tangga masih menempati urutan tertinggi dari segi minat pasarnya. Tentu saja ini menarik, bahwa model iklan perempuan dan juga kaum modal ternyata sangat mengerti bahwa target pasarnya adalah perempuan, sehingga cantik, baik, dan seksi merupakan citra yang bukan saja masih dianggap penting tetapi juga sangat diminati. Dan pemancangan model iklan perempuan yang terdiri dari artis cantik dan terkenal sudah pasti tidak terlepas dari konteks itu.

Meskipun harus diakui pula, bahwa selain paras cantik dan menarik, maka karakter pun sangat menentukan kualitas dan potensi daya jual suatu produk. Perempuan berwajah biasa, terkesan ibu-ibu, dan lembut akan sangat tepat diposisikan untuk iklan produk rumah tangga. Sementara perempuan bertubuh gemuk akan lebih pas memerankan diri sebagai model iklan obat pelangsing tubuh. Kreatifitas kaum modal untuk membentuk citra suatu produk dan model iklan tentu harus berbanding lurus dengan keinginan pasar, dalam hal ini yang dibayangkan sebagai konsumen.

Melihat Perempuan dalam Cermin

Jika iklan lebih mementingkan pesan di balik suatu produk, maka sinetron adalah cermin kecil dari kehidupan sosial sehari-hari. Ia berusaha membuat penyederhanaan kehidupan masyarakat dalam sebuah layar kaca dengan harapan bisa dinikmati oleh jutaan orang. Tentu, tujuan penayangan sinetron bukan hanya sekedar itu. Ia, selain sebagai sarana mendapatkan keuntungan finansial, juga penebar citra melalui peran-peran yang dimainkan oleh para aktornya.

Cerita yang disajikan, mulai dari kisah percintaan remaja sekolahan, problem rumah tangga kelas menengah ke atas, komedi, dan mistik-religius merupakan bentuk sinetron yang hampir selalu tayang di tiap-tiap stasiun tv swasta. Dalam kisah percintaan remaja sekolahan, peran utama perempuan biasanya digambarkan sebagai sosok cantik yang berprestasi, lembut, dan penyabar berhadapan dengan tokoh lain yang berperan sebagai antagonisnya. Persaingan dan juga konflik, sengaja disajikan untuk membuat cerita lebih menarik sekaligus lebih panjang dan menghabiskan beberapa episode.

Lain halnya dengan sinetron rumah tangga kelas menengah ke atas, yang jika tidak menggambarkan seorang perempuan sebagai majikan yang selalu judes kepada pembantunya yang juga perempuan, maka memunculkan cerita lain dalam bentuk percintaan segi tiga. Kehidupan perempuan kelas menengah yang digambarkan serba berkecukupan, status sosial yang tinggi (terpandang), terpelajar, dan juga cantik. Kontras dengan pemeran dan gambaran pembantu, yang jika tidak diposisikan sebagai korban majikan, maka ia diposisikan sebagai perempuan seksi yang juga menggoda majikannya yang laki-laki. Sinetron berjudul Inem Pelayan Seksi, adalah contoh yang mungkin cukup lekat dalam benak penonton hingga saat ini.

Tampaknya, konstruksi perempuan yang demikian tentu semakin menjauhkan dari realitas kehidupan perempuan yang sesungguhnya, dalam arti apakah persoalan perempuan hanya berpaku pada percintaan segi tiga atau sikap judes pada pembantu? Di sisi lain, apakah status sosial perempuan di Indonesia adalah perempuan berkelas dan terpandang?

Sementara sinetron mistik-religius selalu menggambarkan perempuan dengan dua peran yang berbeda, yaitu perempuan yang sangat patuh pada suami, atau perempuan yang “tidak berakhlak mulia.” Pesan yang ingin disampaikan melalui konstruksi perempuan dalam sinetron seperti ini tentu tidak jauh dari tuturan bahwa nilai religiusitas perempuan adalah yang patuh pada suami dan menghindari perilaku yang tidak baik. Mungkin, bukan hanya peran perempuan yang perlu mendapatkan koreksi melainkan juga implikasi dari kepatuhan atau ketidakpatuhan perempuan dalam akhir cerita. Biasanya, kepatuhan perempuan akan mengalami akhir hidup yang tenang – dalam Islam dirumuskan sebagai khusnul khatimah – sementara ketidakpatuhan perempuan akan mengalami akhir hidup yang menakutkan, mati dalam kutukan.

Lalu sinetron komedi seperti Inem Pelayan Seksi, Warkop, Putri Duyung, Komedi Nakal justru lebih menonjolkan sisi sensualitas perempuan. Cerita bukanlah hal yang penting karena ia lebih mengedepankan sisi humoris, yang meskipun dalam beberapa alur justru terlihat kaku. Para pemeran utama perempuan lebih diutamakan yang berpenampilan menarik, seksi, dan berani menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Mungkin, karena disadari bahwa para pemeran utama perempuan akan kesulitan membawakan kelucuan bak pelawak, maka sensualitas sengaja dijaja dan disajikan untuk menarik hasrat penonton.

Inem yang diperankan oleh artis Sarah Vi itu memang terkesan seksi, apalagi ketika ia sedang membersihkan lantai, tubuh terduduk, pinggul bergoyang mengikuti irama tangan yang sedang mengepel lantai, sementara kamera dengan sengaja membidik dari arah belakang. Secara jelas dan pasti, sensualitas itulah yang ingin ditampilkan.

Dan hanya karena sebagai tontonan itulah, kaum pemodal harus kreatif untuk menyajikan segala sesuatu secara menarik, apapun peran dan cerita yang dibuat tetap harus dikemas oleh perempuan yang cantik dan seksi. Di sinilah letak kemampuan kaum modal untuk menghadirkan konstruksi yang mengesankan dimana seluruh penampilan perempuan dalam layar kaca itu seolah-olah realitas yang sesungguhnya, seakan-akan bukan bayangan. Barangkali, inilah yang sering-sering disebut oleh kelompok posmodernis sebagai hiper-realitas. Kita pastilah mengerti bahwa konstruksi atau citra yang dibangun melalui sinetron tidak akan pernah menggambarkan realitas perempuan yang sesungguhnya. Tetapi, kesadaran tentang hal ini harus pula diiringi oleh sikap maklum bahwa perempuan, baik sebagai bintang sinetron maupun juga penonton tetap memiliki kebebasan untuk memilih; antara mengikuti citra yang dibentuk atau menolaknya sama sekali. Pengakuan MK, salah satu model dan artis sinetron tentu sangatlah menarik “saya memang menjadi model iklan shampoo, tetapi sehari-hari saya tidak pernah memakai produk ini.”

Dan ternyata, tontonan tidak pernah berhenti dimaknai sebagai tontonan. Adanya regulasi Negara dan juga kontrol dari kelompok masyarakat tertentu terhadap adegan-adegan syuur di layar kaca membuktikan bahwa tontonan tetap menyimpan tutur yang berimplikasi pada publik. Dalam hal ini, moral adalah juru bicaranya. Kasus pembredelan film Buruan Cium Gue (BCG) 2004 yang lalu ditengarai merupakan puncak kegelisahan sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan adegan ciuman di film tersebut. Meskipun terkadang perlu dipertanyakan pula mengapa ada pembedaan stereotip antara cium bibir yang dikecam dengan cium pipi yang justru dibiarkan, tetapi yang jelas, adegan cium bibir di BCG mendapatkan sorotan yang cukup tajam.

Paling tidak, gugatan yang dilayangkan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan Forum Silaturahmi antar Pengajian (Forsap) pada tanggal 20 Agustus 2004 yang lalu merupakan wujud dari keberatan atas film BCG karena dinilai sangat merusak moral masyarakat, khususnya para remaja dan generasi muda. Kejadian ini membuat Lembaga Sensor Film (LSF) buru-buru melakukan klarifikasi bahwa pada hakekatnya LSF telah melakukan sensor, hanya saja mereka tidak mengira bahwa adegan syuur dalam film tersebut masih tetap beredar.

Sebenarnya, meruyaknya tayangan berbau “porno” dan mengundang birahi bukan merupakan fenomena baru dalam kancah perfilman Indonesia. Pada era 1980-an, masyarakat pernah disuguhi berbagai film “binal” seperti Bernafas Dalam Lumpur, Gairah Binal, Gadis Malam, dan sebagainya yang akhir-akhir ini kembali diputar oleh salah satu tv swasta di Jakarta. Entah karena berdasarkan pada psiko-mental masyarakat yang menyukai hal-hal berbau porno atau karena alasan lain, tetapi yang jelas berbagai film yang mencuatkan adegan seksual sangat diminati oleh penonton. Berangkat dari kenyataan akan adanya keuntungan finansial dan rating yang menggiurkan, lalu lambat-laun berbagai film yang lebih mengedepankan pajangan tubuh-tubuh perempuan menjadi wahana bisnis yang terus berlanjut hingga sekarang.

Tentunya, fenomena seperti ini cukup mengherankan mengingat ketatnya peraturan hukum yang melarang secara keras bentuk film, reklame, atau apa pun yang di dalamnya mengandung unsur-unsur pembangkit birahi atau bentuk-bentuk adegan seksual yang menggairahkan. Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1994 dan UU No. 8/1992 cukup jelas menegaskan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan unsur yang berbau porno tidak boleh diloloskan untuk diedarkan di tengah-tengah masyarakat. Regulasi, aturan atau pun kontrol tetap saja tidak bisa mengekang kreatifitas insan layar kaca. Justru, kontrol dan/atau regulasi yang dibuat membuat insan layar kaca semakin terpacu untuk melakukan siasat. Kita pasti mengerti bahwa sebuah cerita sinetron yang menampilkan perempuan seksi dan sensual akan diakhiri oleh sebuah keinsyafan. Para perempuan itu, yang di awal cerita harus memerankan diri sebagai tokoh yang seronok, pakaian terbuka, dan permainan tubuh menggoda, maka pada tahap akhir cerita ditutup dengan pertaubatan. Siasat cerita sinetron seperti inilah yang biasanya menghindarkan para insan – pemain dan kru – dari kejaran hukum, karena nalar publik diajak pada satu pemahaman bahwa sebuah kesalahan akan dimaklumi ketika cerita itu berakhir pada kebaikan.

Selain masih sulit untuk menentukan batasan dan kategori porno atau bukan, penayangan sinetron juga sangat ditentukan oleh kaum modal. Merekalah yang menurut Ade Armando sangat menentukan keluar tidaknya izin siaran, frekuensi, dan juga iklan. Barangkali, karena disadari bahwa persoalan media tidak sekedar memberikan informasi melainkan bisnis, maka modal menjadi majikan yang sangat menentukan segalanya. “Jika sudah ngomong televisi, jangan singgung masalah idealisme karena ia pasti mati. TV7 yang awalnya ingin mengimbangi trend Kompas, ya tidak laku. Lain halnya dengan TransTV yang sangat berorientasi pasar, dengan cepat ia melejit dan survive,” lanjur Ade, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) itu.

Selain BCG, fenomena Inul juga cukup menarik perhatian. Meskipun kebijakan tentang pornografi belum mencapai titik final, tetapi ia telah dituding melakukan aksi porno. Bahkan, Rhoma Irama juga mengecam bahwa goyangan ngebor Inul dinilai sangat mengundang birahi dan bertentangan dengan agama. Kegamangan mulai muncul dimana kebebasan ekspresi seorang penyanyi dikekang oleh sudut pandang moral yang juga didukung oleh kekuatan massa. Efeknya, Inul bukan hanya merasa tertuduh, tetapi ia sempat mengalami pelarangan tampil di beberapa tempat di daerah, bukan lantaran ia melakukan goyang ngebor, tetapi stereotip terlanjur mencuat bahwa dirinya pengundang birahi laki-laki.

Regulasi, dengan demikian semakin sulit mendapatkan ruangnya ketika arus informasi juga menebar sedemikian gencarnya. Pencekalan terhadap BCG tentu akan dinilai tidak fair ketika tayangan yang serupa tetap muncul di tengah malam, di stasiun tv yang bisa dinikmati oleh siapapun. Lebih dahsyat lagi adalah fenomena CD porno yang dengan mudah ditemukan dan dibeli di pinggir jalan. Jangan-jangan, terdapat sesuatu yang lain bahwa pencarian kenikmatan dan pelampiasan hasrat libido merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Ketika pencarian kenikmatan melalui tontonan tidak lagi terdapat dalam layar kaca, maka sangat bisa jadi bahwa pencarian itu akan beralih ke media yang lain, internet atau juga CD porno yang juga telah menjejal di antara kerdipan mata masyarakat, dari yang usianya masih dini sampai yang berusia uzur.

Kritik pedas dari kelompok pemerhati kesetaraan gender yang menilai bahwa patriarki yang berkolaborasi dengan kapitalisme begitu kuat menghegemoni perempuan, sehingga dengan mudah mau menjadi model yang mengurai seluruh potensi seksualitasnya sepatutnya direnungkan ulang. Di satu sisi, kritik seperti ini ada benarnya, khususnya jika melihat bahwa perempuan yang menjadi bintang iklan maupun artis sinetron selalu berada dan bermain-main dalam wilayah kekuatan dan kekuasaan modal dan patriarki. Tetapi di sisi lain, geliat para artis yang ditampakkan melalui keberanian untuk memilih, menerima, dan/atau menolak peran yang dinilainya vulgar, juga bisa menjadi gambaran lain bahwa patriarki dan juga modal bukanlah kekuasaan tunggal yang tidak bisa dilawan sama sekali.

Barangkali, kritisisme yang layak dimunculkan adalah bahwa konstruksi tentang perempuan yang dimunculkan dalam layar kaca tidak mungkin bisa menggambarkan berbagai kehidupan perempuan, yang bukan hanya sangat jamak tetapi juga memiliki dimensinya masing-masing. Penyadaran, bukan lagi ditujukan pada perempuan agar menjauhi dunia layar kaca, sesuatu yang pasti tidak mungkin bisa dilakukan karena hal itu turut memberangus pilihan sadar mereka atas kebutuhan ekonomi. Penyadaran lebih layak diarahkan pada pengungkapan kehidupan perempuan yang begitu jamak, baik dimensi kehidupannya maupun siasat-siasatnya menghadapi gempuran patriarki, kapitalisme, dan modernitas yang lain.

Dengan demikian, kita tidak perlu cemas ketika suatu waktu berbagai salon kecantikan, fitness center, toko kosmetik, dan forum pengajian banyak berjubel perempuan dimana mereka akan berkata: “kami ingin seperti artis itu lho,” “kami tidak ingin mati terkutuk,” “kami harus menjadi perempuan saleh,” dan seterusnya. Karena di sisi lain, banyak juga ibu-ibu rumah tangga yang melontarkan kata-kata kritis bahwa sinetron atau pun juga film tetaplah tontonan, ia bukanlah realitas yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: