gubugbudaya

A Home for Plurality

Pak Karim

Posted by msurur on April 23, 2007

Aku masih belum habis pikir. Pak Karim, guru ngaji di kampung ini tiba-tiba mengundurkan diri. Ia tidak mau lagi ngajar ngaji di masjid. Keputusan itu ia umumkan sewaktu yasinan di rumah pak Margono seminggu yang lalu. Seluruh hadirin tercekat. Bagaimana tidak, warga di sini juga kuatir kalau keputusan itu diiringi dengan keputusan yang lain. Warga takut seandainya pak Karim juga tidak mau lagi menjadi imam sholat, ogah menjadi imam yasinan, mundur juga dari ustadz pengajian ibu-ibu, dan tidak mau lagi diminta menyembahyangi orang yang meninggal.

Seluruh warga di kampung ini tahu bahwa lantaran pak Karimlah anak-anak muda bisa membaca Alquran dengan baik. Ibu-ibu juga sering bilang bahwa apa yang diajarkan oleh pak Karim mudah dicerna, tidak muluk-muluk, dan tidak mengajarkan pengetahuan agama yang berat-berat. “Ucapan pak Karim itu lembut. Kalau ditanya tentang sesuatu, pasti dijawab dengan enak dan membuat kita menjadi lega,” ucap Muljinah.

Aku masih ingat. Sewaktu pak Karim memutuskan tidak mau lagi ngajar ngaji, seluruh hadirin yang ikut yasinan langsung keberatan. “Kenapa Pak, apa sudah capek ya?” tanya Mulyono.

“Sudah bosan ya Pak?”lontar Suratin.

“Apa karena tidak ada bayarannya?” tanya Nukilan.

“Muridnya nakal-nakal ya Pak?” tanya Mardi.

Macam-macamlah pertanyaan dari hadirin, tapi pak Karim cuma tersenyum. Ia masih tidak mau terus terang memberikan alasan kenapa ia tidak mau lagi menjadi guru ngaji. satu-satunya jawaban yang keluar dari mulutnya cuma satu kalimat “Saya sudah tua. Saya ingin ada yang lain.”

Mungkin benar. Pak Karim memang sudah sepuh, usianya sudah mendekati 70 tahun. Sepertinya sudah 30 tahun ia menjadi guru ngaji. Pak Karim memang bukan generasi pertama di kampung ini. Kira-kira 40 tahun lalu, ia datang dari Jawa merantau di Sumatera dan menetap di sini. Tapi, mendengar di tempat-tempat lain masih banyak juga kiai kampung yang sudah tua dan masih mau mengabdikan diri di masyarakat.Awalnya, tidak ada satu pun yang tahu kalau pak Karim adalah sosok yang mumpuni di bidang ilmu agama. Warga hanya tahu kalau pak Karim adalah perantau yang ingin hidup dan mengembangkan kehidupannya di sini. Sebenarnya, beberapa keluarga pak Karim masih ada yang di Jawa. Tapi seperti layaknya para pendatang di sini, setelah menetap, sulit kiranya untuk kembali lagi ke Jawa.

Dulu, di kampung ini tidak terdapat masjid. Yang ada cuma langgar. Itu pun hanya dipakai untuk sholat saja, tidak untuk yang lain. Meskipun kegiatan ngaji sudah ada, tapi yang mengajar waktu itu hanya bisa-bisaan saja. Pak Sunar, guru ngaji yang dulu disebut-sebut warga di sini tidak fasih. Maklum, pak Sunar sendiri memang tidak pernah belajar ngaji secara mendalam. “Tapi gimana lagi karena waktu itu tidak ada yang lain. Yang bisa ya cuma almarhum pak Sunar itu,” kenang orang tuaku.

Awal-awal kedatangan pak Karim, warga di sini juga tidak ada yang tahu kemampuannya. Tapi lambat laun, seluruh warga mengerti kalau pak Karim adalah seorang santri yang pandai ilmu agama. Menjelang maghrib, Pak Karim selalu pergi ke langgar untuk sholat jamaah. Selesai azan, pak Karim juga menyelingi waktu dengan membaca puji-pujian. Dan setelah sholat, pak Karim juga tidak langsung pulang melainkan selalu menyempatkan diri untuk membaca Alquran. Dari situlah warga tahu kalau pak Karim adalah santri tulen. Orang tuaku bilang kalau pak Karim pernah nyantri di Jawa selama 17 tahun. Makanya tidak heran jika di usianya yang mendekati 70 tahun ini, di antara ke empat anaknya, baru satu yang menikah. Yang lainnya masih sekolah setingkat SMA dan SMP.

Setelah seminggu pak Karim mundur, seluruh warga mulai resah. Yasinan malam ini akan diselingi dengan urun rembug, siapa kira-kira yang pantas menggantikan pak Karim. Beberapa hari ini, ada gonjang-ganjing bahwa Usman lah yang patut menggantikan Pak Karim. Usman ini dikenal sebagai murid pertama pak Karim. Tapi, ada yang tidak setuju karena Usman terlalu keras dalam menjalankan keyakinan agama. Pernah suatu kali, Burhan berjalan-jalan di depan rumah Usman sambil bersiul. Tiba-tiba Usman keluar rumah sambil menegur “hentikan siulanmu! Bersiul itu kerjaan setan,” umpatnya.

Pernah juga Usman menghardik orang yang merokok. Usman menganggap bahwa rokok itu adalah akar setan. Tidak ketinggalan, Maryati yang masih sekolah Tsanawiyah itu juga pernah kena teguran karena ia pergi ke warung sebelah tanpa memakai kerudung. “Mar, mana jilbabmu? kamu mau mengumbar aurat ya?”

Ada yang berbisik-bisik bahwa selain Usman, masih ada Ponijan. Ia juga murid pak Karim. Berbeda dengan Usman, Ponijan ini lebih dikenal santun dan tidak cepat-cepat mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang memerahkan telinga. Meskipun terdapat sesuatu yang menurutnya kurang patut, Ponijan lebih suka untuk menegurnya dengan candaan. Seperti Misnan yang pernah ketahuan mengambil sandal temannya di masjid cuma ia minta untuk mengembalikan tanpa harus dimarah-marah. Tapi, masih ada juga yang kurang setuju. “Masak guru ngaji kok namanya Ponijan. Lama-lama ia akan dipanggil Kiai Ponijan, wah tidak pantes banget.” “Lha terus siapa? Murid-muridnya pak Karim itu ya rata-rata kayak kita, namanya jarang yang arab. Hampir semuanya jawa, kecuali Usman, Burhan, dan Maimun,” ucap Mulyono.

Aku sendiri, yang pernah belajar ngaji sama pak Karim juga tidak mungkin masuk kategori. Selain aku masih muda, namaku juga tidak berbau arab. Tapi sore ini, sebelum yasinan, aku memberanikan diri mendatngi pak Karim untuk meminta penjelasan tentang keputusannya. Kalau perlu, aku ingin meminta beliau agar menarik kembali keputusannya dan kembali mengajar ngaji di kampung ini.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Oo kamu to ji, masuk,” ucap pak Karim yang melihat kedatanganku. “Duduk, Ji. Ada apa kok kayaknya penting sekali?”

“Begini lho Pak. Terus terang, saya masih belum bisa nrimo kalau Bapak harus mundur, ndak mau lagi ngajar. Bapak sendiri kan tahu kalau warga di sini masih membutuhkan bapak,” ujarku.

Belum sempat menjawab, dari arah dapur muncullah Laila, ragilnya pak Karim membawa dua gelas teh. “Mas Warji to? Monggo diminum, Mas.” “Terima kasih, Laila.”

“Wes to Ji. Sudah saatnya yang tua-tua ini diganti dengan yang muda-muda seperti kamu. Masak saya terus yang harus di depan?” jawab pak Karim singkat.

“Bukan begitu, Pak. Masalah ini lain. Ini bukan untuk memilih lurah atau jabatan yang lain. Ini masalah siapa yang harus menjadi pembimbing untuk wilayah akhirat, untuk ukhrawi. Dan itu bukan hanya membutuhkan siapa yang lebih sepuh, tapi juga yang betul-betul mengerti,” ujarku ngotot.

“Kamu betul, Ji. Masalah pengetahuan agama itu memang bukan sepele. Ia berhubungan dengan tanggungjawab kita nanti di depan Gusti Allah. Tapi, kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Kalau harus saya terus yang di depan, sampai nanti pun tidak ada yang mau belajar bertanggungjawab dan membawa beban berat. Atau harus menunggu saya meninggal, baru kalian ribut-ribut? Saya malah lebih suka kita ribut-ribut sekarang, tapi hasilnya bagus karena memang kita persiapkan dengan baik. Daripada setelah saya meninggal, lalu ribut, bisa-bisa yang ada hanya keterpaksaan,” jelas pak Karim.

“Tapi siapa yang pantes menggantikan Bapak? Orang-orang di sini masih pada belum yakin dengan orang yang akan menggantikan sampean.”

“Ji, muridku itu banyak. Saya itu sudah puluhan tahun menjadi guru ngaji di sini. Sudah banyak yang bisa baca Alquran. Sudah banyak yang mengerti pengetahuan agama, meskipun belum setara dengan Kiai. Tapi itu sudah lumayan. Masak kamu bilang tidak ada? Ada Usman, Burhan, Ponijan, Tugino, Markani, Saliran, atau kamu sendiri.”

“Tapi tetap saja tidak semumpuni Bapak. Sudah gitu, rata-rata jawa. ”

“Ji, apa masalahnya dengan nama Jawa? Apa kamu kira yang arab itu yang paling pantes? Gusti Allah sendiri tidak pernah melihat dari sisi luarnya kok?!”

“Tapi apa ya pantes, kalau ada Kiai kok namanya Kiai Ponijan, Kiai Tugino, Kiai…?”

“Kenapa tidak? Selama orang itu memiliki kemampuan, nama apa pun itu tidak masalah. Buat apa namanya bagus, arab, tapi cuma mengerti secuil. Dalam agama itu Ji, yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan tapi juga kearifan. Warga kita itu tidak semuanya pernah ngaji di pesantren, tidak semuanya pernah nyantri. Tapi mereka butuh ilmu agama, mereka ingin tahu, ingin mengerti. Lha untuk memberikan pengertian itu tidak cukup hanya dengan memberitahu bahwa ini boleh, itu tidak. Ini haram, itu halal. Tapi juga harus kita tahu masalahnya apa? Kondisinya seperti apa? Sehingga belajar agama itu tidak lagi menakutkan, tapi justru membuat orang senang dan tambah ingin terus belajar.”

“Lalu siapa kira-kira yang pantes menggantikan Bapak?”

“Sudahlah, itu urusan warga di sini. Tokh, itu akan kita musyawarahkan nanti malam.”

Aku termangu. Aku telah gagal mendesak pak Karim. “baiklah, Pak. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa bapak memutuskan untuk mengundurkan diri?”

Kulihat pak Karim tersenyum. Sekilas aku melihat kedua matanya berkaca-kaca.

“Ji, saya ini sudah sepuh. Orang kalau sudah sepuh seperti saya ini, untuk mengucapkan kata-kata saja sudah pelo, tidak fasih lagi. Saya takut, nanti yang saya ajarkan pada anak-anak akan ditangkap secara lain, itu artinya saya juga yang salah. Itu dosa Ji,” Jelas pak Karim singkat.

Aku pamit. Aku sudah lega dengan jawaban pak Karim. Kini aku mengerti alasan pak Karim yang sudah bulat dengan keputusannya. Nanti malam, semua orang akan menentukan pengganti pak Karim. Tapi aku sudah tidak peduli siapa yang akan dipilih. Aku hanya berharap, siapapun dia, mudah-mudahan bisa mengikuti jejak pak Karim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: