gubugbudaya

A Home for Plurality

“Survival Strategic” Perempuan Seni Tradisi

Posted by msurur on March 16, 2007

Lenggak-lenggok penari Jaipong itu terasa masih melekat dalam imajinasi setiap penonton yang riuh rendah memadati arena pertunjukan. Bajidor dengan begitu lincah berusaha mengimbangi egolan dan tarian penari jaipongan sembari terkadang menjamah, mencolek dan berperilaku ‘jahil’ lainnya. Sebuah tontonan, pertunjukan yang menampilkan interaksi yang hidup dan terbuka antara laki-laki dan perempuan. Di dunia panggung inilah penggambaran adanya proses saling-menundukkan, saling-menikmati dan saling memperdayakan terjadi. Laki-laki berusaha memperoleh kesenangan sepuas-puasnya meskipun terkadang harus rela diberi label sebagai penikmat seks karena kecenderungannya yang sexual oriented. Demikian pula sebaliknya, perempuan-perempuan seni tradisi itu –seindah apapun mereka menari- tetap sulit menghindarkan diri dari jargon-jargon sexual suspect; perempuan penjaja seks, penggoda laki-laki dan sebutan lain yang sejenis.

, para ledhek, ronggeng atau sinden yang dielu-elukan di atas pentas pertunjukan seni tradisi, pun meski menghadapi stereotype yang sama ketika mereka mengarungi kehidupan sosial sehari-hari. Realitas-realitas di luar dirinya yang mewujud dalam kekuasaan, laki-laki dan ataupun otoritas keagamaan menggiring mereka ke dalam pembungkaman untuk berekspresi secara bebas dan mandiri. Pengalaman politisasi seni tradisi oleh Orde Baru cukup menggambarkan sebuah relasi kuasa yang represif di mana simbol-simbol budaya dilahap oleh pesan-pesan politik kekuasaan. Belum lagi ketika kekuasaan yang ikut ambil bagian dalam pementasan seni tradisi ditambah dengan hiruk pikuknya suara-suara sumbang dari kalangan agamawan, siasat yang dilakukan tidak lebih dari sekedar bertahan. Dengan dalih demi penertiban seni budaya nasional (baca : komersialisasi seni tradisi) atau fatwa pelarangan berbasis syariat agama (baca : pengharaman), membuat representasi perempuan seni tradisi mengalami kemacetan karena ruang geraknya dibelenggu oleh dua kekuatan hegemonik, negara dan agama.

Menjadi seorang perempuan seni tradisi bukanlah pembentukan identitas yang lepas dari persoalan. Kecantikan dan kemolekan serta profesionalitas tarian yang merupakan modal utama untuk menyuguhkan sebuah seni terkadang harus dibayar mahal dengan jawilan, jamahan, remasan atau bahkan oleh tubuhnya sendiri. Belum lagi hujatan-hujatan dari pihak lain –yang tidak sedikit pula adalah perempuan- terasa seperti palu godam yang sewaktu-waktu menghantam kehidupannya, meskipun pada saat yang bersamaan, decakan kagum serta torehan pujian juga mengiringi pementasan itu.

Persoalannya memang demikian carut marut mengingat tidak tunggalnya identitas perempuan, sama halnya dengan ketidaktunggalan ruang lingkup di mana mereka hidup. Apa yang selama ini menjadi locus perjuangan feminis masih berkutat pada isu-isu keadilan dan kesetaraan perempuan kelas menegah urban, sehingga cenderung elitis dan menafikan sub-alternitas. Satu hal yang terlupakan adalah bahwa perjuangan kesetaraan gender seperti ini justru menguntungkan segelintir perempuan elit, sedangkan marjinalitas perempuan akan tetap hidup dalam kelestarian derita wong cilik, tradisionalitas perempuan kampung atau race problem perempuan etnik. Di sinilah perlunya strategi lokalitas sebagai penyiasatan untuk tetap survive, bertahan dari serbuan konstruksi budaya, negara, dan agama. Strategi merupakan kejelian untuk menyikapi tuntutan serta meraih pilihan-pilihan yang menguntungkan. Meskipun penari Jaipong tidak mungkin begitu saja berhenti dari kegiatan jaipongan, ronggeng juga tidak mudah untuk absen dari tayuban sebagai hidup dan kehidupannya, tetapi mereka bebas menentukan sasaran saweran.

Politik representasi sebagai bagian dari eksibisionisme ini secara sepintas lalu menarasikan kenyataan perempuan yang begitu mudah masuk dalam perangkap patriarki. Secara implisit, ia merasa tidak keberatan dijadikan objek tontonan, tapi semua itu tetap harus dibayar dengan pemenuhan material yang keluar dari saku laki-laki. Memang, strategi-strategi seperti ini tidak bisa membebaskan perempuan-perempuan itu dari semua jaring masalah, tetapi paling tidak, mereka diberi kesempatan dan mempunyai hak untuk bersikap dan berbicara. Jika demikian, masih adakah eksploitasi seksual atau kekerasan seksual terhadap perempuan dalam konteks perempuan seni tradisi? Pertanyaan seperti ini mungkin akan memperoleh cercaan karena pertama, asumsi ini bisa jadi akan mengaburkan kemapanan wacana tentang perempuan marjinal yang butuh pelindungan dan uluran tangan dari luar dirinya (baca : laki-laki dan negara) untuk dilakukannya sebuah pemberdayaan. Kedua, solidaritas yang diandaikan akan direkat dalam sebuah kesatuan perempuan yang kritis terhadap tindakan subordinatif terasa dicabik-cabik oleh pemikiran tentang lokalitas perempuan yang justru meniscayakan heterogenitas perempuan.

“Sexual Suspect”, Terminologi Apakah Ini?

Bagi perempuan seni tradisi, konsep tentang perempuan lemah, objek kekerasan, tradisional, dan sebutan lain yang mencerminkan adanya pemojokan kian luntur karena batasan-batasannya terkikis oleh kenyataan yang berbeda. Laki-laki yang dianggap sebagai aktor patriarki justru tidak berarti apa-apa di hadapan perempuan-perempuan itu. Kekuatan lelaki sebagai simbol maskulinitas seketika luluh di bawah keacuhan para penari tradisi. Dengan pengertian lain, seorang laki-laki akan merasa tidak mempunyai makna kelelakian manakala perilakunya di atas panggung tidak ditanggapi secara positif oleh seorang penari yang menjadi pasangannya.

Itulah dunia seni tradisi, sebuah arena kontestasi yang mempertaruhkan identitas pihak-pihak yang berkepentingan, baik dalam bentuk kapitalisme, politik kekuasaan, maupun konstruksi agama. Ketiganya merupakan wilayah yang sangat rawan karena sewaktu-waktu bisa melahap habis sisi ‘autentisitas’ seni tradisi. Menghadapi ketiga-tiganya dibutuhkan strategi khusus mengingat representasi perempuan dalam dunia panggung mudah dimanfaatkan oleh ketiganya sebagai pihak yang terpojok. Kapitalisme berusaha menjadikan sisi-sisi keperempuanan sebagai umpan konsumtif bagi masyarakat. Politik kekuasaan terkadang lebih parah lagi menyeret perempuan seni tradisi sebagai pelaku tontonan yang sulit lepas dari ‘pesanan’ politik negara. Sedangkan agama, dengan tidak didukung oleh kemampuan eksplorasi ajaran keagamaan yang terbuka, semakin menyudutkan perempuan seni tradisi dalam pojok-pojok ‘keharaman’ fatwa ulama. Hanya resistensilah yang bisa menghadapi gempuran ketiganya. Resistensi bukan dimaknai sebagai pemihakan oportunistik dengan menggadaikan seni tradisi demi ambisi pribadinya, bukan pula penolakan mentah-mentah terhadap ‘rayuan’ yang datangnya dari luar dirinya. Resistensi merupakan survival strategic (strategi untuk tetap bertahan hidup) yang itu tidak bisa dirumuskan dalam satu kebakuan konsep. Ia sangat heterogen, cair, subjektif, dan multi perspektif.

Memang, resistensi bukanlah strategi tanpa kompensasi. Tetapi, kompensasi itupun harus dibalas pula dengan kompensasi lain yang menguntungkan. Terkadang, ia membutuhkan kerelaan dan kesiapan dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai mangsa produksi, tetapi tetap cerdik dengan meraup keuntungan sesuai dengan yang diharapkannya. Di sinilah sebenarnya letak kesaling-manfaatan antara perempuan seni tradisi dengan ruang tinggalnya. Sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Reina Lewis (1996: 63), bahwa kesuksesan perempuan seni itu diretas melalui dua cara; pertama, hubungan kerja yang berkaitan dengan cara berpenampilan agar tetap eksis. Kedua, peneguhan identitas yang dilakukan dengan representasi secara profesional dalam ruang-ruang yang berbeda. Dengan demikian, tudingan bahwa perempuan seni tradisi selalu mendapatkan stereotype pelecehan seksual perlu direnungkan ulang. Jangan-jangan, stereotype itu hanya melekat pada pemikiran-pemikiran imajiner dan teoritik, tetapi jauh dari kenyataan empirik yang terjadi secara faktual dan sosial. Dengan pengertian lain, imajinasi mengenai persoalan yang menghinggapi para perempuan seni tradisi itu sangat perlu disejajarkan dengan dengan representasi yang mereka lakukan, sehingga kebutuhan untuk melakukan “pemberdayaan” tidak berlaku secara gebyah-uyah dan jauh dari relevansinya dengan kebutuhan perempuan seni tradisi itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: