gubugbudaya

A Home for Plurality

Porno?

Posted by msurur on March 16, 2007

Suatu hari, tepat tanggalnya aku lupa. Tapi yang jelas, kejadian ini aku alami bulan Februari tahun 2005 yang lalu. Sudah pasti jauh sebelum Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) menjadi lokus sebagian masyarakat yang gegap gempita untuk mendukung atau menolaknya. Pagi itu aku mendarat di Jepara, Jawa Tengah setelah semalaman penuh aku naik bis Hariyanto. Jepara dan sekitarnya menjadi wilayah dimana riset etnografis harus aku lakukan. Aku sengaja minta ditemani oleh rekanku yang tidak kebetulan memang berdomisili di Jepara.
Mungkin sudah kebiasaan, setiap pagi aku terbiasa untuk membuang segala kotoran yang ada di perutku. Barang halal atau haram harus aku relakan untuk keluar. seperti halnya pagi itu, aku begitu kebelet ingin melakukan hal yang sama seperti yang setiap pagi menjadi kebiasaanku itu. Padahal, pagi itu aku masih diajak ngobrol oleh keluarga rekanku; berbincang tentang Jakarta, aktifitasku, juga tentang Jepara sembari mengunyah ubi rebus panas dengan parutan kelapa di atasnya. Setengah berbisik, aku minta mengkhabarkan ke rekanku bahwa perut ini tidak bisa kompromi. “Mau berak ya?”. “Iya nih,” ucapku. “Sebentar, aku bilang ke tetanggaku dulu ya.” Aku bingung, apa maksud ucapan itu? Wong mau buang hajat aja kok mau dibilangin ke tetangganya lebih dahulu.
“Iya nak, buang hajat di tetangga sebelah saja soalnya di rumah bapak tidak ada WC-nya,” ujar bapak rekanku. Aku termenung. ini aneh, kok rumah dengan sekumpulan keluarga seperti ini tidak memiliki WC. Trus, kemana mereka akan menyalurkan hajat jika sewaktu-waktu sudah kebelet? Ah bodo amat, yang penting bagaimana keluhanku ini bisa segera berlalu.
, rekanku mengajakku ke rumah tetangga sebelah yang disambut oleh seorang nenek dan seorang gadis muda, kuterka-terka usianya sekitar 19 tahunan lah. “Monggo nak, di sini saja,” ujar nenek itu. Aku langsung masuk ke dalam rumah karena sumur dan WC-nya terletak di belakang. Ketika sampai di belakang, aku terhenyak karena di sana ada seorang ibu muda sedang mandi dengan hanya sepotong kain menutupi bawah perutnya saja. Sementara bagian atas perut sampai ke kepala tidak tertutup apa pun. Aku kaget, malu, kikuk, dan sebagainya. Tapi, aku justru kaget ketika dengan santainya si ibu muda tersebut memanggilku. “Mas, itu lho WC-nya, yang ada pintunya,” ujarnya.
Segera aku masuk ke ruangan yang hanya terpisah oleh pintu kecil. Dalam terduduk, suara gebyar-gebyur air dari ibu yang sedang mandi itu sangat jelas di telingaku. bahkan gosokan sabun yang dibalurkan ke tubuhnya pun terdengar. Sejenak aku berpikir, “Kalau begini, yang ngeres itu memang otakku. Padahal ibu itu saja tenang-tenang saja kok. walaupun kelihatan olehku, dia begitu santai dan tidak segera pergi atau buru-buru menutupi tubuhnya.”
Setelah selesai, aku kembali dan bertanya ke rekanku “kenapa sih rumahmu gak ada WC-nya?” “oh, itu. Kang, rata-rata penduduk sini memang tidak mau buat WC, bukannya mereka tidak kuat untuk membuatnya. Tapi, mereka merasa lebih enjoy kalau berak di pinggir kali. Kalau berak di WC seperti itu, susah keluarnya,” jawabnya. “Lho, tapi kenapa tetanggamu itu punya WC?” “Nah, bapak dari cewek itu kan kerja di Jakarta. Dia sudah menjadi orang kota, Kang. Jadi bakal malu kalau sampai tidak punya WC, karena temen-temennya sering main ke sini.”

Siang hari, aku mulai keluar rumah untuk menyapa sebagian warga. maklum, aku adalah pendatang, alangkah baiknya jika aku harus ngobrol dan bersenda gurau dengan warga sekitar. Di sela-sela obrolanku, lewatlah seorang perempuan muda, aku terka usianya sekitar 26 tahun. Byaarr! Perempuan ini hanya memakai BH dan celana pendek. Jangan ngeres dulu, aku akui parasnya cantik dan kulitnya bersih. Dia lewat dan sedang memanggil-manggil anaknya yang masih berusia 6 tahun. Ya, di tempat ini. Para perempuan lebih banyak yang melakukan nikah usia dini. 16 tahun sudah bersuami, bahkan tidak sedikit yang berusia 14 tahun pun sudah menikah. Dan biasanya, setelah mereka memiliki momongan, keluyuran di depan rumah hanya dengan memakai BH bukanlah sesuatu yang aneh. Masyarakat sekitar pun menganggap itu sebagai sesutu yang biasa. Kecuali buatku yang selama ini selalu disusupi pikiran-pikiran modern.

Sore di hari ketiga aku jalan-jalan menelusuri kali, tempat dimana dikatakan sebagai ruang terbuka bagi orang-orang yang kepingin buang hajatnya. Aku cuma ingin membuktikan kebenaran omongan rekanku itu. Kali itu terletak tidak jauh dari rumah rekanku, sekitar 200 meter. Kali yang ini bukan kali yang lebar, tapi memanjang dengan jembatan terbentang sebagai jalan penghubung antar kedua tepi. Lagi-lagi aku kaget. Di pinggir-pinggir jembatan itu terdapat 5 orang, 3 laki-laki paruh baya dan 2 orang nenek-nenek sedang asyik nongkrong, buang hajat berjamaah sambil merokok santai, dan ngobrol. Otomatis, dari arah belakang, bokong-bokong yang sudah memasuki usia senja sangat tampak, berlomba-lomba dan berusaha memberikan warna lain di antara semburat mentari sore yang akan memasuki waktu maghrib.

Sekian detik kemudian aku berbalik, melangkah pulang. Entah, dan seandainya kepornoan itu bisa diukur dengan peraturan baku dan kaku, akankah orang-orang yang tiap sore asyik nongkrong di atas jembatan itu akan digusur, digeret, dan dijerat oleh aparat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: