gubugbudaya

A Home for Plurality

4 Mei 2006

Posted by msurur on March 16, 2007

Hari itu aku pergi ke Garut, Jawa Barat untuk sebuah acara workshop. Aku menginap bersama teman-teman di sebuah hotel yang cukup nyaman di daerah Cipanas (bukan Cipanas Puncak). Kolam renang dengan air panas, kamar-kamar yang disebut kawung terletak di atas permukaan air, plus udara yang sejuk menambah kenyamanan untuk sekedar istirahat atau juga melepas penat. Tiga hari aku habiskan untuk diskusi, ngobrol ngalor-ngidul bersama teman-teman yang tidak kebetulan berasal dari beberapa daerah; Makassar, Palembang, Lombok, Cianjur, Bondowoso, dll.
Seperti halnya di tempat-tempat peristirahatan yang lain, daerah Cipanas ini pun terlihat semakin sejuk dan menyenangkan di malam hari. Tidak ada suasana sepi, karena hampir selalu ada orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. mulai dari tukang ojek sampai pedagang-pedagang setempat selalu terlihat.
aku keluar hotel bersama beberapa teman untuk sekedar jalan-jalan. Maklum, tempat ini berada di bawah lereng bukit yang senantiasa terlihat indah dengan tertunjang cahaya bulan yang muncul separuh. Baru beberapa meter kami menyusuri jalan, ketika secara tiba-tiba seseorang yang sebelumnya aku sangka sebagai tukang ojek itu menegur: “mau nginep, A’?” “oh nggak kang, cuma mau jalan-jalan aja kok,” jawabku. Ia tidak berhenti sampai di situ. Dengan tersenyum, ia menawarkan “teman tidur”. “A’, butuh teman? di sini ada kok. Murah kang.” Aku tersenyum, tapi temanku yang dari Makassar ini serentak menimpali. “Kalo tukang pijit ada tidak kang? Tapi tukang pijit beneran lho?”
“Ada A’, mau yang tua apa yang muda?”
“Lho kan yang penting tukang pijit. Emang harganya beda ya?”
“Iya lah A’. Kalo yang muda 50 ribuan. Tapi kalo yang tua sekitar 30 ribuan. Tapi, kamarnya bayar lagi.”
Temanku ini bingung. Dia pikir tukang pijit yang dia kehendaki sama seperti tukang pijit di tempat-tempat lain pada umumnya, cuma cukup bayar tanpa harus sewa kamar khusus. “Wah, kalau kayak gini mah bukan tukang pijit kang, tapi tukang remes.” “Atau mau yang tukang remesnya sekalian A’?” “nah, kalau yang ini berapa?” tanyaku. “Kalau yang ini 20 ribu untuk saya, 25 ribu untuk sewa kamar selama 2 jam, ceweknya sendiri 100 ribu. ” “Cantik-cantik tidak?” tanya temanku yang dari Jawa Timur. “Lumayan A’. Masih muda-muda lagi, Ada yang 18 tahun sampe 25 tahun.”
“Kang, 2 jam itu untuk berapa kali “naik”?
“Yah, kalo itu sih ngomong sama ceweknya. Biasanya sih, sekali “keluar” ya udah. Kalo mo nambah lagi ya ngasih bonus.”
“Kok cewek-ceweknya tidak kelihatan Kang?’
“Oh ada A’, di tempat khusus. Kalo Aa’ mau, nanti saya antar dan silahkan pilih sendiri.”
Aku dan teman-teman yang sok-sokan ini mulai ngeper sendiri. awalnya sih sok menggebu-gebu, tapi begitu ditawarin beneran malah pada keringetan dingin. “Ok kang, nanti dulu yah. Cari yang lain dulu,” ucapku untuk menghindari tekanan tawarannya. Lambat-laun kami pulang, kembali ke hotel. Tertawa-tawa sambil merenung dengan pikirannya sendiri-sendiri. Aku melirik ke samping. Temanku mendesah, ia bergumam “kenapa tidak dicoba? Dengan mengalami sendiri kan bisa menjadi pengalaman yang baik, agar tidak mudah menuding para perempuan malam itu sebagai sampah masyarakat. Toh kehadiran mereka pun diharapkan oleh laki-laki seperti kita-kita ini to?”. Aku diam, mungkin juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: