gubugbudaya

A Home for Plurality

Sempal

Posted by msurur on April 16, 2005

Sempal berarti lepas, terpisah, dan terbuang dari unsur pokoknya. Tapi tidak pernah ada kategori, juga standar apakah lepas berarti pula musuh, bukan bagian, atau sama sekali yang lain. Kita seringkali lupa bahwa kategori sempal hanya mungkin ketika ia berada dalam sebuah ruang, diperantai oleh tafsir yang berakhir dengan klaim. Sumber utamanya adalah firman, sabda, atau otoritas yang dirujuk sebagai pengabsah untuk menundukkan dan membuat ummat manusia lain untuk bertaubat. Kita juga kian lupa bahwa Alquran atau Injil turun dan diterima oleh orang yang berbeda-beda tanpa pernah mewajibkan untuk diresepsi secara lurus dan apa adanya.

“Seandainya Aku mau, tentu sudah Aku jadikan hamba-Ku sebagai tunggal,” merupakan inspirasi yang tidak pernah tuntas. Tuhan menginginkan ketidak-mauan-Nya untuk membuat hidup menjadi hambar tanpa beda. Ia, di satu sisi, membutuhkan variasi dan kreatifitas manusia untuk mengelola kehidupan ini menjadi lebih terang melalui interaksi dan dialog. Tapi, perjalanan tidak semulus itu. Ahmadiyah, Syiah, PKI, sufi, atau juga GAM (Gerakan Aceh Merdeka) merupakan deret yang justru dikategori menyempal karena keberadaanya di sini dianggap tidak selaras dengan Islam yang pokok atau Indonesia yang tunggal.

bahwa ini semua adalah proses ketika demokrasi menjadi pilihan meskipun ia berada di tengah harapan yang tidak bersih dari cemas. Dulu, anggapan tentang yang pokok adalah mainstream sementara yang sempal adalah pinggir, kini dibuncah karena kedua kutub ekstrem itu bukanlah tata yang final. Ketegangan selalu muncul karena pinggir tidak pernah patuh secara sempurna di hadapan mainstream. Seorang filsuf menyimpulkan, kuasa itu tidak tunggal, ia berada di mana-mana. Lambat-laun, pinggir pun semakin mengerti bahwa kekuasaan yang dibangun pusat tidak murni sebagai rujukan yang pantas dicerna tanpa kritik.

Tapi mungkin juga tidak. Pinggir yang mengkritik pusat juga tidak murni dari pamrih. Ia kerapkali menjadi ephoria berlebihan yang menggerus potensi lain yang juga berada di pinggir. Tengok saja otonomi daerah yang menuntut marka identitas lokal yang jelas tanpa pernah memperhitungkan bahwa untuk memperoleh identitas itu terkadang mengeraskan batas antara kita dan mereka. Belum lagi jika harus bicara tentang paham, bagaimana cara beribadah, atau Tuhan yang mana yang layak disembah membuat rumusan seputar itu semakin marut. Di sana, pasti akan muncul pertanyaan; mungkinkah membangun sebuah identitas yang sama tanpa memasukkan ide permusuhan terhadap perbedaan?

Lalu, siapakah yang bermain di balik ini? Ketika pinggir di dalam pinggir dan pusat semakin cair, tentu akan sulit mencari musuh yang hanya dikategori sebagai sosok atau agen karena semuanya sudah sedemikian rumit untuk diurai. Apa yang mungkin diucapkan, paling tidak untuk saat ini, adalah memaklumkan pemahaman bahwa yang beda, minor, dan tidak searus pun merupakan entitas yang laik untuk dibingkai ke dalam kebersamaan.

Siapa pun berhak untuk khawatir, terutama sewaktu modernitas semakin menjelma menjadi kekuatan yang melibas apa pun. Modernitas hadir justru untuk menampik ketidakpastian dan yang sulit untuk dicerna dengan akal wadag. Modernitas juga jauh dari paham bahwa di sini komunitas terbentuk dari hal ihwal yang spesifik, lokal, dan terkadang tidak rapi. Apa lacur, modernitas membutuhkan otoritas dan dukungan meski harus diraih dengan cara memuakkan.

Lagi-lagi, ini terkait dengan standar dan kategori. Bahkan, untuk memenuhi standar itulah sebuah lembaga dibentuk, dilegitimasi melalui SK untuk menentukan ajaran mana yang mesti dipegang dan mana yang harus dibuang. Ironis memang, karena lembaga ini tidak pernah bertanya atau mungkin juga sengaja menutup diri dari pemahaman bahwa hukum apa pun yang berusaha dirilis dan kemudian berubah menjadi fatwa adalah kodifikasi yang sepatutnya tidak berpaling dari pengalaman layaknya sebuah asbabunnuzul atau asbabul wurud yang berpangkal dari realitas keseharian umat. Tentu ini aneh, Tuhan dihadirkan dengan paksa untuk mewakili kepentingan satu pihak sementara di pihak lain negara pun berpura-pura tidak bisa berbuat apa-apa. Aparat keamanan justru semakin sumringah karena tugas-tugasnya telah diambil-alih oleh kalangan yang sudah merasa mampu untuk melindungi warga negara, bukan dari ancaman perang melainkan dari rasa takut akan ternodainya keimanan oleh keyakinan lain; liberalisme, pluralisme, dan sekularisme.

Di dekat gerbang al-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzulqa’da tahun 309 H, sebuah kepala menggelinding dengan bibir tersenyum. Darah menyembur membentuk kalimat tauhid, sementara rakyat Persia tercengang sambil bergumam penuh penyesalan, “ternyata Tuhan lebih memihak al-Hallaj, sang “sempalan” itu daripada hukum penguasa yang banal.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: