Berkurban untuk Kebersamaan

Bersama berkurban

Advertisements

Dinamika Penelitian di Wilayah Perempuan Marjinal: Kasus Perempuan Seni Tradisi

Meneliti kehidupan perempuan seni tradisi hampir dipastikan akan menemui dua persoalan besar. Pertama, seni tradisi yang menempati posisi tidak menguntungkan, khususnya jika dibandingkan dengan kehadiran jenis seni lain yang sifatnya lebih popular. Seni tradisi yang sedari awal munculnya selalu mengandalkan apresiasi, interaksi, dan keterlibatan penonton serta seluruh pelaku tradisi kesenian itu kini tidak lagi demikian. Entah sejak kapan, tetapi tampaknya belum terdapat satu hasil penelitian yang cukup konkret menggambarkan terpisahnya seni tradisi dari penonton dan pelaku tradisinya.

Continue reading “Dinamika Penelitian di Wilayah Perempuan Marjinal: Kasus Perempuan Seni Tradisi”

Modernitas dan Resistensi Perempuan Lokal

Tidak diragukan lagi bahwa berbagai penelitian atau juga tulisan singkat (cenderung tidak terinci) tentang perempuan telah banyak dilakukan. Ada yang berusaha mengaitkannya dengan fenomena-fenomena popular seperti Islam, pembangunan, politik, pendidikan, dan sebagainya. Ada pula yang mengaitkannya dengan isu-isu global seperti kapitalisme dan invasi militer. Kemiripan fokus permasalahan yang dibidik oleh berbagai penelitian itu dititik-beratkan pada persoalan patriarki yang diasumsikan sebagai akar yang melatarbelakangi adanya ketimpangan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Fenomena-fenomena seperti di atas lebih banyak dicurigai memiliki muatan diskriminasi terhadap perempuan ketimbang dilihat sebagai realitas yang mengandung relasi kuasa yang beragam. Akhirnya, hasil dari beberapa penelitian itu tidak sedikit yang melihat dan menempatkan perempuan sebagai korban, bukan sebagai sosok atau entitas yang memiliki posisi dan identitas yang cair.

Dengan berangkat dari beberapa penelitian tentang perempuan, tulisan ini berusaha beringsut dari isu-isu besar seperti di atas dengan berpaling pada pengaruh modernitas dan bagaimana modernitas itu sendiri dipahami, direspon, dan diartikulasikan menurut kadar pengetahuan dan kemampuan perempuan, khususnya perempuan subaltern1 dalam konteks dan lokalitasnya masing-masing. Dalam hal ini perempuan subaltern adalah mereka yang berada pada posisi non-dominan dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari kelompok-kelompok mainstream yang memiliki kekuasaan. Dan sebagai fokus pembahasan, tulisan ini akan berupaya mengungkap berbagai persoalan (representasi, negosiasi, dan resistensi) perempuan seni tradisi, tiga kata dalam satu deret kalimat yang selalu menimbulkan tanya dan perhatian. Perempuan sebagai entitas jenis kelamin yang “lain” dari laki-laki bukan hanya sedang “in” – sehingga penting untuk dibahas, khususnya – di dalam pengungkapan berbagai macam diskriminasi akibat ideologi patriarki, tetapi posisi perempuan di dalam seni tradisi itu sendiri memerlukan perhatian tambahan. Ia tidak hanya akan mengungkap mengenai perempuan an sich, tetapi juga seni tradisi yang tidak kalah jarang diposisikan sebagai kesenian marginal. Meskipun demikian, tulisan ini berusaha keluar dari perasaan larut di dalam marginalitas itu dengan lebih melihat berbagai bentuk siasat kultural yang dibangun dalam menghadapi derasnya arus modernitas, bentuk-bentuk diskriminasi, dan kekuatan luar yang datang.

Continue reading “Modernitas dan Resistensi Perempuan Lokal”

Tasbihku

Malam ini aku bertasbih. Dalam kesadaran, aku kembali memuji asma-Mu. Butir-butir kerikil yang terpegang terasa cepat bergulir. Aku kosong. Tiada yang masuk ke dalam nadiku, kecuali-Mu. Tiada yang hadir dalam syarafku, kecuali-Mu. Dan tiada yang merenda ke dalam renungan dan tasbihku, kecuali-Mu.

Aku bangkit. Aku berjejak di bawah naungan malam. Mataku menatap langit; cerah, bintang, dan intipan rembulan tanggal 23 rajab. Aku ingin terbang di ketinggian awan, berkepak sayap yang tak kasat dan ingin berhenti ketika kulihat jelmaan ayat-ayatMu di bawah sana, jelmaan dari kebesaran-Mu yang selalu kupuja. Angin meriuh lirih di antara dedaunan yang gemuruh dingin tertimpa embun-embun yang membisu. Ia berbisik: “bersujudlah, hanya Dia yang layak untuk mendengar tasbihmu. Dan hanya Dia yang pantas menjadi terminal keluhmu.”

Sejenak aku terpukau. Di telingaku terkenang ungkapanmu: “cinta-Nya adalah yang terhebat sayang, yang tidak pernah berkesah, tidak akan pernah ada kata selamat tinggal, meskipun jamak dari hamba yang terlalu jauh dari-Nya.”

Kemiri Hitam

11 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku Aliyah. Sekolahku itu memang bukan Aliyah biasa. Ia popular dijuluki Madrasah Aliyah Program Khusus. Sekolah itu khusus laki-laki, harus lulusan terbaik dari MTs, yang diterima pun hanya 40 orang, serta wajib tinggal di asrama. Selain menerima dan menempuh pelajaran umum, aku dan teman-teman juga wajib ngaji kitab-kitab kuning seperti halnya di pesantren.

Continue reading “Kemiri Hitam”

RUU KUHP: Ambisius, tapi Tidak Realistis

diskusi-panel-d.jpgItulah ungkapan yang dikeluarkan oleh Musdah Mulia ketika mengupas Delik Pidana Agama dalam RUU KUHP yang diselenggarakan oleh Aliansi Nasional Reformasi KUHP (Desantara, Huma, Elsam, Aji, dan LBH APIK) tanggal 3-4 Juli 2007 yang lalu di Hotel Santika Jakarta. Selain Musdah Mulia, narasumber lain yang dilibatkan dalam diskusi panel tentang Perkembangan Delik Pidana Agama dalam Pembaharuan KUHP adalah Ifdhal Kasim (Direktur Hukum The Reform Institute) dan Bisri Effendy (Peneliti Kebudayaan LIPI).

Continue reading “RUU KUHP: Ambisius, tapi Tidak Realistis”