gubugbudaya

A Home for Plurality

Dinamika Penelitian di Wilayah Perempuan Marjinal: Kasus Perempuan Seni Tradisi

Posted by msurur on August 18, 2008

Meneliti kehidupan perempuan seni tradisi hampir dipastikan akan menemui dua persoalan besar. Pertama, seni tradisi yang menempati posisi tidak menguntungkan, khususnya jika dibandingkan dengan kehadiran jenis seni lain yang sifatnya lebih popular. Seni tradisi yang sedari awal munculnya selalu mengandalkan apresiasi, interaksi, dan keterlibatan penonton serta seluruh pelaku tradisi kesenian itu kini tidak lagi demikian. Entah sejak kapan, tetapi tampaknya belum terdapat satu hasil penelitian yang cukup konkret menggambarkan terpisahnya seni tradisi dari penonton dan pelaku tradisinya.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Modernitas dan Resistensi Perempuan Lokal

Posted by msurur on August 16, 2007

Tidak diragukan lagi bahwa berbagai penelitian atau juga tulisan singkat (cenderung tidak terinci) tentang perempuan telah banyak dilakukan. Ada yang berusaha mengaitkannya dengan fenomena-fenomena popular seperti Islam, pembangunan, politik, pendidikan, dan sebagainya. Ada pula yang mengaitkannya dengan isu-isu global seperti kapitalisme dan invasi militer. Kemiripan fokus permasalahan yang dibidik oleh berbagai penelitian itu dititik-beratkan pada persoalan patriarki yang diasumsikan sebagai akar yang melatarbelakangi adanya ketimpangan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Fenomena-fenomena seperti di atas lebih banyak dicurigai memiliki muatan diskriminasi terhadap perempuan ketimbang dilihat sebagai realitas yang mengandung relasi kuasa yang beragam. Akhirnya, hasil dari beberapa penelitian itu tidak sedikit yang melihat dan menempatkan perempuan sebagai korban, bukan sebagai sosok atau entitas yang memiliki posisi dan identitas yang cair.

Dengan berangkat dari beberapa penelitian tentang perempuan, tulisan ini berusaha beringsut dari isu-isu besar seperti di atas dengan berpaling pada pengaruh modernitas dan bagaimana modernitas itu sendiri dipahami, direspon, dan diartikulasikan menurut kadar pengetahuan dan kemampuan perempuan, khususnya perempuan subaltern1 dalam konteks dan lokalitasnya masing-masing. Dalam hal ini perempuan subaltern adalah mereka yang berada pada posisi non-dominan dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari kelompok-kelompok mainstream yang memiliki kekuasaan. Dan sebagai fokus pembahasan, tulisan ini akan berupaya mengungkap berbagai persoalan (representasi, negosiasi, dan resistensi) perempuan seni tradisi, tiga kata dalam satu deret kalimat yang selalu menimbulkan tanya dan perhatian. Perempuan sebagai entitas jenis kelamin yang “lain” dari laki-laki bukan hanya sedang “in” – sehingga penting untuk dibahas, khususnya – di dalam pengungkapan berbagai macam diskriminasi akibat ideologi patriarki, tetapi posisi perempuan di dalam seni tradisi itu sendiri memerlukan perhatian tambahan. Ia tidak hanya akan mengungkap mengenai perempuan an sich, tetapi juga seni tradisi yang tidak kalah jarang diposisikan sebagai kesenian marginal. Meskipun demikian, tulisan ini berusaha keluar dari perasaan larut di dalam marginalitas itu dengan lebih melihat berbagai bentuk siasat kultural yang dibangun dalam menghadapi derasnya arus modernitas, bentuk-bentuk diskriminasi, dan kekuatan luar yang datang.

Read the rest of this entry »

Posted in Bebas | Leave a Comment »

Tasbihku

Posted by msurur on July 16, 2007

Malam ini aku bertasbih. Dalam kesadaran, aku kembali memuji asma-Mu. Butir-butir kerikil yang terpegang terasa cepat bergulir. Aku kosong. Tiada yang masuk ke dalam nadiku, kecuali-Mu. Tiada yang hadir dalam syarafku, kecuali-Mu. Dan tiada yang merenda ke dalam renungan dan tasbihku, kecuali-Mu.

Aku bangkit. Aku berjejak di bawah naungan malam. Mataku menatap langit; cerah, bintang, dan intipan rembulan tanggal 23 rajab. Aku ingin terbang di ketinggian awan, berkepak sayap yang tak kasat dan ingin berhenti ketika kulihat jelmaan ayat-ayatMu di bawah sana, jelmaan dari kebesaran-Mu yang selalu kupuja. Angin meriuh lirih di antara dedaunan yang gemuruh dingin tertimpa embun-embun yang membisu. Ia berbisik: “bersujudlah, hanya Dia yang layak untuk mendengar tasbihmu. Dan hanya Dia yang pantas menjadi terminal keluhmu.”

Sejenak aku terpukau. Di telingaku terkenang ungkapanmu: “cinta-Nya adalah yang terhebat sayang, yang tidak pernah berkesah, tidak akan pernah ada kata selamat tinggal, meskipun jamak dari hamba yang terlalu jauh dari-Nya.”

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Kemiri Hitam

Posted by msurur on July 14, 2007

11 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku Aliyah. Sekolahku itu memang bukan Aliyah biasa. Ia popular dijuluki Madrasah Aliyah Program Khusus. Sekolah itu khusus laki-laki, harus lulusan terbaik dari MTs, yang diterima pun hanya 40 orang, serta wajib tinggal di asrama. Selain menerima dan menempuh pelajaran umum, aku dan teman-teman juga wajib ngaji kitab-kitab kuning seperti halnya di pesantren.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | 3 Comments »

RUU KUHP: Ambisius, tapi Tidak Realistis

Posted by msurur on July 11, 2007

diskusi-panel-d.jpgItulah ungkapan yang dikeluarkan oleh Musdah Mulia ketika mengupas Delik Pidana Agama dalam RUU KUHP yang diselenggarakan oleh Aliansi Nasional Reformasi KUHP (Desantara, Huma, Elsam, Aji, dan LBH APIK) tanggal 3-4 Juli 2007 yang lalu di Hotel Santika Jakarta. Selain Musdah Mulia, narasumber lain yang dilibatkan dalam diskusi panel tentang Perkembangan Delik Pidana Agama dalam Pembaharuan KUHP adalah Ifdhal Kasim (Direktur Hukum The Reform Institute) dan Bisri Effendy (Peneliti Kebudayaan LIPI).

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Hastinapura

Posted by msurur on June 18, 2007

Ini di kota, bung. Deru mobil, bising suara motor, atau dua tetangga yang saling umpat karena berebut tempat sampah. Ah, itu biasa. Namanya juga di kota besar, bung. Copet, jambret, maling, juga biasa lalu lalang di depan mata. Untuk yang terakhir ini aku juga ingat. Baru kemarin Sukmawati berseloroh, ngedumel, bukan karena ia harus naik angkot tiap hari, tapi ia melihat tiga orang laki-laki sangar bermata merah menempel ketat seorang perempuan paruh baya. Yang satu pura-pura baca koran, yang lain pura-pura menjatuhkan komik lusuh, sementara yang lain lagi pura-pura tertidur dengan kepala bersandar di bahu sang ibu.

“Ini pura-pura. Mereka pasti bangsa pencopet,“ pikir Sukma. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini di kota, bung. Ingin membela orang lain, jangan-jangan nyawa sendiri tidak terjaga. Angkot berhenti. Tiga laki-laki itu keluar mobil. Sepeminuman teh kemudian, sang ibu sadar, dompetnya raib.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Republik Celeng*

Posted by msurur on June 18, 2007

Celeng itu memang gemuk dan kelihatan perkasa. Ia memiliki banyak anak buah yang semuanya juga celeng. Menurut keyakinan sebagian besar orang Jawa, celeng melambangkan kekuasaan, kekuatan, kerakusan, dan keserakahan. Ia menjijikkan karena tingkah lakunya yang menyebalkan. Terdapat sebuah legenda, ada celeng yang suka mencuri harta milik masyarakat. Ia memang bukan celeng yang sesungguhnya. Ia jelmaan manusia yang karena memiliki olah kebatinan kemudian menjadikan kemampuan itu untuk mengubah dirinya menjadi celeng jadi-jadian untuk meraup sebanyak-banyaknya harta yang dimiliki oleh masyarakat sekitarnya. Polah tingkah celeng ini sering disebut dengan ngepet, celeng ngepet atau babi ngepet.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Perempuan di Balik Kaca Kotak

Posted by msurur on June 14, 2007

Meidita Artisita (19 tahun) begitu gelisah. Waktu yang ia lihat menunjukkan pukul 4 sore, sementara ia masih berada di dalam taksi bertemankan seorang sopir. Wajahnya mulai memucat, ia tahu bahwa setengah jam lagi, pengambilan gambar untuk iklan sebuah produk shampo segera dilakukan. Ia cemas, bukan lantaran macetnya jalanan kota, tetapi hari itu adalah pertaruhan. Hari itu adalah hari pertama percobaannya menjadi model iklan, setelah beberapa hari sebelumnya ia harus bersaing dengan calon model yang lain untuk mendapatkan tempat. Ia hanya ingin agar penampilannya di hari pertama ini bisa mengesankan, penuh kepercayaan, dan tentu saja professional.

Read the rest of this entry »

Posted in Bebas | Leave a Comment »

Hak Minoritas di Indonesia

Posted by msurur on June 8, 2007

segandu.jpgSampai saat ini, sepertinya tidak terdapat definisi yang tunggal mengenai apa yang disebut sebagai minoritas atau kelompok minoritas. Dalam konteks Indonesia, terminologi minoritas bukan hanya sulit untuk menentukan definisinya secara ketat melainkan juga pada tataran batasan jumlahnya secara cacah jiwa. Bahkan dalam beberapa hal yang sangat konkret, kategorisasi minoritas yang disematkan oleh Negara terhadap kelompok tertentu tidak jarang menimbulkan reaksi balik yang cukup mengagetkan. Tapi untuk sementara, mari merujuk pada dua definisi yang pernah dikemukakan oleh PBB dalam bentuk repertoar special. Pertama, repertoar yang disampaikan oleh Fransesco Capotorti yang berusaha menjelaskan bahwa minoritas itu sebagai:1

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pak Karim

Posted by msurur on April 23, 2007

Aku masih belum habis pikir. Pak Karim, guru ngaji di kampung ini tiba-tiba mengundurkan diri. Ia tidak mau lagi ngajar ngaji di masjid. Keputusan itu ia umumkan sewaktu yasinan di rumah pak Margono seminggu yang lalu. Seluruh hadirin tercekat. Bagaimana tidak, warga di sini juga kuatir kalau keputusan itu diiringi dengan keputusan yang lain. Warga takut seandainya pak Karim juga tidak mau lagi menjadi imam sholat, ogah menjadi imam yasinan, mundur juga dari ustadz pengajian ibu-ibu, dan tidak mau lagi diminta menyembahyangi orang yang meninggal.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »