gubugbudaya

A Home for Plurality

Archive for August, 2007

Modernitas dan Resistensi Perempuan Lokal

Posted by msurur on August 16, 2007

Tidak diragukan lagi bahwa berbagai penelitian atau juga tulisan singkat (cenderung tidak terinci) tentang perempuan telah banyak dilakukan. Ada yang berusaha mengaitkannya dengan fenomena-fenomena popular seperti Islam, pembangunan, politik, pendidikan, dan sebagainya. Ada pula yang mengaitkannya dengan isu-isu global seperti kapitalisme dan invasi militer. Kemiripan fokus permasalahan yang dibidik oleh berbagai penelitian itu dititik-beratkan pada persoalan patriarki yang diasumsikan sebagai akar yang melatarbelakangi adanya ketimpangan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Fenomena-fenomena seperti di atas lebih banyak dicurigai memiliki muatan diskriminasi terhadap perempuan ketimbang dilihat sebagai realitas yang mengandung relasi kuasa yang beragam. Akhirnya, hasil dari beberapa penelitian itu tidak sedikit yang melihat dan menempatkan perempuan sebagai korban, bukan sebagai sosok atau entitas yang memiliki posisi dan identitas yang cair.

Dengan berangkat dari beberapa penelitian tentang perempuan, tulisan ini berusaha beringsut dari isu-isu besar seperti di atas dengan berpaling pada pengaruh modernitas dan bagaimana modernitas itu sendiri dipahami, direspon, dan diartikulasikan menurut kadar pengetahuan dan kemampuan perempuan, khususnya perempuan subaltern1 dalam konteks dan lokalitasnya masing-masing. Dalam hal ini perempuan subaltern adalah mereka yang berada pada posisi non-dominan dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari kelompok-kelompok mainstream yang memiliki kekuasaan. Dan sebagai fokus pembahasan, tulisan ini akan berupaya mengungkap berbagai persoalan (representasi, negosiasi, dan resistensi) perempuan seni tradisi, tiga kata dalam satu deret kalimat yang selalu menimbulkan tanya dan perhatian. Perempuan sebagai entitas jenis kelamin yang “lain” dari laki-laki bukan hanya sedang “in” – sehingga penting untuk dibahas, khususnya – di dalam pengungkapan berbagai macam diskriminasi akibat ideologi patriarki, tetapi posisi perempuan di dalam seni tradisi itu sendiri memerlukan perhatian tambahan. Ia tidak hanya akan mengungkap mengenai perempuan an sich, tetapi juga seni tradisi yang tidak kalah jarang diposisikan sebagai kesenian marginal. Meskipun demikian, tulisan ini berusaha keluar dari perasaan larut di dalam marginalitas itu dengan lebih melihat berbagai bentuk siasat kultural yang dibangun dalam menghadapi derasnya arus modernitas, bentuk-bentuk diskriminasi, dan kekuatan luar yang datang.

Read the rest of this entry »

Posted in Bebas | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.