gubugbudaya

A Home for Plurality

Tasbihku

Posted by msurur on July 16, 2007

Malam ini aku bertasbih. Dalam kesadaran, aku kembali memuji asma-Mu. Butir-butir kerikil yang terpegang terasa cepat bergulir. Aku kosong. Tiada yang masuk ke dalam nadiku, kecuali-Mu. Tiada yang hadir dalam syarafku, kecuali-Mu. Dan tiada yang merenda ke dalam renungan dan tasbihku, kecuali-Mu.

Aku bangkit. Aku berjejak di bawah naungan malam. Mataku menatap langit; cerah, bintang, dan intipan rembulan tanggal 23 rajab. Aku ingin terbang di ketinggian awan, berkepak sayap yang tak kasat dan ingin berhenti ketika kulihat jelmaan ayat-ayatMu di bawah sana, jelmaan dari kebesaran-Mu yang selalu kupuja. Angin meriuh lirih di antara dedaunan yang gemuruh dingin tertimpa embun-embun yang membisu. Ia berbisik: “bersujudlah, hanya Dia yang layak untuk mendengar tasbihmu. Dan hanya Dia yang pantas menjadi terminal keluhmu.”

Sejenak aku terpukau. Di telingaku terkenang ungkapanmu: “cinta-Nya adalah yang terhebat sayang, yang tidak pernah berkesah, tidak akan pernah ada kata selamat tinggal, meskipun jamak dari hamba yang terlalu jauh dari-Nya.”

One Response to “Tasbihku”

  1. anggara said

    PERTAMAX lagi *joged-joged*

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>