gubugbudaya

A Home for Plurality

Archive for June, 2007

Hastinapura

Posted by msurur on June 18, 2007

Ini di kota, bung. Deru mobil, bising suara motor, atau dua tetangga yang saling umpat karena berebut tempat sampah. Ah, itu biasa. Namanya juga di kota besar, bung. Copet, jambret, maling, juga biasa lalu lalang di depan mata. Untuk yang terakhir ini aku juga ingat. Baru kemarin Sukmawati berseloroh, ngedumel, bukan karena ia harus naik angkot tiap hari, tapi ia melihat tiga orang laki-laki sangar bermata merah menempel ketat seorang perempuan paruh baya. Yang satu pura-pura baca koran, yang lain pura-pura menjatuhkan komik lusuh, sementara yang lain lagi pura-pura tertidur dengan kepala bersandar di bahu sang ibu.

“Ini pura-pura. Mereka pasti bangsa pencopet,“ pikir Sukma. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini di kota, bung. Ingin membela orang lain, jangan-jangan nyawa sendiri tidak terjaga. Angkot berhenti. Tiga laki-laki itu keluar mobil. Sepeminuman teh kemudian, sang ibu sadar, dompetnya raib.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Republik Celeng*

Posted by msurur on June 18, 2007

Celeng itu memang gemuk dan kelihatan perkasa. Ia memiliki banyak anak buah yang semuanya juga celeng. Menurut keyakinan sebagian besar orang Jawa, celeng melambangkan kekuasaan, kekuatan, kerakusan, dan keserakahan. Ia menjijikkan karena tingkah lakunya yang menyebalkan. Terdapat sebuah legenda, ada celeng yang suka mencuri harta milik masyarakat. Ia memang bukan celeng yang sesungguhnya. Ia jelmaan manusia yang karena memiliki olah kebatinan kemudian menjadikan kemampuan itu untuk mengubah dirinya menjadi celeng jadi-jadian untuk meraup sebanyak-banyaknya harta yang dimiliki oleh masyarakat sekitarnya. Polah tingkah celeng ini sering disebut dengan ngepet, celeng ngepet atau babi ngepet.

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Perempuan di Balik Kaca Kotak

Posted by msurur on June 14, 2007

Meidita Artisita (19 tahun) begitu gelisah. Waktu yang ia lihat menunjukkan pukul 4 sore, sementara ia masih berada di dalam taksi bertemankan seorang sopir. Wajahnya mulai memucat, ia tahu bahwa setengah jam lagi, pengambilan gambar untuk iklan sebuah produk shampo segera dilakukan. Ia cemas, bukan lantaran macetnya jalanan kota, tetapi hari itu adalah pertaruhan. Hari itu adalah hari pertama percobaannya menjadi model iklan, setelah beberapa hari sebelumnya ia harus bersaing dengan calon model yang lain untuk mendapatkan tempat. Ia hanya ingin agar penampilannya di hari pertama ini bisa mengesankan, penuh kepercayaan, dan tentu saja professional.

Read the rest of this entry »

Posted in Bebas | Leave a Comment »

Hak Minoritas di Indonesia

Posted by msurur on June 8, 2007

segandu.jpgSampai saat ini, sepertinya tidak terdapat definisi yang tunggal mengenai apa yang disebut sebagai minoritas atau kelompok minoritas. Dalam konteks Indonesia, terminologi minoritas bukan hanya sulit untuk menentukan definisinya secara ketat melainkan juga pada tataran batasan jumlahnya secara cacah jiwa. Bahkan dalam beberapa hal yang sangat konkret, kategorisasi minoritas yang disematkan oleh Negara terhadap kelompok tertentu tidak jarang menimbulkan reaksi balik yang cukup mengagetkan. Tapi untuk sementara, mari merujuk pada dua definisi yang pernah dikemukakan oleh PBB dalam bentuk repertoar special. Pertama, repertoar yang disampaikan oleh Fransesco Capotorti yang berusaha menjelaskan bahwa minoritas itu sebagai:1

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.